Kamis, 21 Juni 2012

Membangun Moralitas Mahasiswa


Bab I
Pendahuluan
A.    Latar Belakang
Mahasiswa memiliki potensi yang besar, tantangan dan juga tanggung jawab di jamannya. Tantangan mahasiswa adalah menjaga generasinya tetap baik dan lebih baik dari yang dulu. Mahasiswa sebagai agent of change dituntut untuk mengambil peran didalam tantangan yang berupa perubahan sosial. Perubahan tersebut mengikuti zamannya seperti globalisasi dan modernisasi sehingga menimbulkan kekhawatiran masyarakat  yaitu krisis moral.
Mahasiswa pada era globalisasi sekarang ini seperti kehilangan arah dan tujuan. Mahasiswa terjebak pada lingkaran dampak globalisasi yang lebih mengedepankan corak hedonisme dan apatisme. Mahasiswa bersifat anarkisme dalam menyuarakan kepentingan rakyat merupakan corak dan stigma negative yang seakan-akan menyudutkan posisi mereka. Bahkan banyak masyarakat yang menganggap mahasiswa sekarang disibukkan oleh tawuran antar sesame dan bentrokan terhadap aparat penegak hokum. Sehingga pada akhirnya keamanan masyarakat menjadi terganggu dan kehidupan pembelajaran di kampus tidak kondusif.
Itulah kekhawatiran adanya krisis moral mahasiswa yang seharusnya menjadi agen perubahan social lebih baik tetapi terhalang oleh kebahagiaan dunia semata. Untuk itu makalah ini membahas tentang contoh kasus moralitas mahasiswa sebagai dampak globalisasi serta upaya untuk membangun moralitas mahasiswa yang lebih baik.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian moralitas, mahasiswa, globalisasi?
2.      Studi  kasus moralitas mahasiswa sebagai dampak globalisasi?
3.      Bagaimana upaya untuk membangun moralitas mahasiswa di era globalisasi?

C.   Tujuan
1.      Untuk mengetahui pengertian dari moralitas, mahasiswa, dan globalisasi.
2.      Untuk mengetahui kasus moralitas mahasiswa sebagai dampak globalisasi.
3.      Untuk mengetahui upaya membangun moralitas mahasiswa sehingga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Bab II
Pembahasan
A.      Pengertian Moralitas, Mahasiswa dan Globalisasi
a.1. Pengertian Moralitas                                              
Menurut Sonny Keraf :
“Moral menjadi tolak ukur yang dipakai masyarakat untuk menentukan baik buruknya tindakan manusia sebagai manusia, mungkin sebagai anggota masyarakat atau sebagai orang dengan jabatan tertentu atau profesi tertentu.” 

Moral yang dimaksud dalam makalah ini adalah sesuatu yang berhubungan atau berkaitan dengan menentukan baik buruknya dalam bertindak mahasiswa dalam menentukan perilakunya.
Sedangkan moralitas menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia :
“Moralitas adalah sopan santun, segala sesuatu yg berhubungan dengan etika atau adat sopan santun.
a.2. Pengertian Mahasiswa      
Kata mahasiswa sendiri terdiri dari kata maha dan siswa, maha berarti sangat, tinggi sedangkan siswa berarti murid, pelajar.
Menurut PP RI No 30 tahun 1990:
 “Mahasiswa adalah peserta didik yang terdaftar dan belajar di perguruan tinggi tertentu. Mahasiswa merupakan suatu kelompok dalam masyarakat yang memperoleh statusnya karena ikatan dalam perguruan tinggi.

Sedangkan menurut kamus besar bahasa indonesia:
“Mahasiswa adalah orang yang belajar diperguruan tinggi.”
a.3. Pengertian Globalisasi
Kata “globalisasi” diambil dari kata global, yang maknanya universal. Globalisasi diartikan sebagai proses yang menghasilkan dunia tunggal ( Robertson, 1992 : 396). Masyarakat diseluruh dunia menjadi saling tergantung di semua aspek kehidupan.
Menurut Malcom Waters :
“Globalisasi adalah sebuah proses social yang berakibat bahwa pembatasan geografis pada keadaan social budaya menjadi kurang penting, yang terjelma didalam kesadaran orang.”

B.  Studi Kasus Moralitas Mahasiswa sebagai dampak globalisasi
Berikut merupakan contoh-contoh kasus dan permasalahan moralitas mahasiswa sebagai dampak globalisasi :
1.      Malam menjelang ujian esok hari, seorang mahasiswa malas belajar dan memilih untuk bermain game dan browsing menggunakan internet semalaman. Hingga keesokan harinya mahasiswa ini bangun kesiangan. Meskipun terlambat, dia tetap diperbolehkan mengikuti ujian. Dengan Hand Phone miliknya dia menanyakan jawaban kepada teman lain melalui sms, sesekali mahasiswa ini mencari jawaban melalui internet.
Kasus tersebut memberikan kemudahan pada mahasiswa akan tetapi memberikan dampak negative yakni ketidakadanya rasa kejujuran pada mahasiswa. Mahasiswa seakan lupa dengan tanggungjawabnya sebagai seorang mahasiswa.
2.      Seorang mahasiswi metropolitan yang sangat tertarik dengan fashion up to date. Setiap hal yang berhubungan dengan fashion selalu dihampirinya. Belanja untuk kepuasan pribadi mengahmbur-hamburkan uang membeli barang yang kurang bahkan tidak penting.   
Dengan cepatnya perkembangan teknologi yang merupakan bagian dari arus Globalisasi sangat mudah untuk diakses saat ini, sehingga dengan gaya hidup seperti itulah mahasiswi tersebut mulai berperilaku menyimpang. Contohnya seperti memakai pakaian yang tidak menutup aurat. Hal ini sangat bertentangan dengan budaya timur yang dikenal sangat menjunjung tinggi etika dan moral.
3.      Mahasiswa/i merasa tertekan oleh pelajaran di kampus, masalah keluarga bisa ekonomi, broken home, dan lain-lain. Mereka melampiaskan kekesalan dengan mencari teman baru. Tanpa berpikir panjang teman yang mereka pilih ternyata Bandar narkoba. Dengan mudahnya mahasiswa dipengaruhi untuk mengonsumsi barang haram tersebut.
4.      Sebuah kasus yang menunjukan begitu rentannya pelajar dan mahasiswa mengalami kerusakan moral adalah di Yogyakarta yang dikenal sebagai kota pelajar. Sebuah penelitian menyebutkan bahwa sekitar 80% mahasiswi di sana telah kehilangan keperawanan. (Tapurnomo.blogspot.com/2010/03/mero)
Karakter hedonisme yang mengakibatkan mahasiswa/i kehilangan arah dalam mencapai cita-cita pendidikan. Mereka terjerumus kedalam pergaulan bebas yang pada akhirnya membawa mereka ke minum-minuman keras, narkoba hingga seks bebas. Hilangnya kendali dalam diri mereka karena pola pikir dan main set yang telah terkontaminasi oleh desakan abstrak.
Ironis, mahasiswa sekarang sudah lupa pada tugas dan hakikatnya, ibarat sebuah peribahasa yaitu “bagai macan yang kehilangan taringnya”. Mahasiswa yang katanya merupakan kaum intelektual mempunyai pemikiran kritis, analisa tajam, serta diharapkan untuk memperjuangkan masa depan bangsa, seakan-akan kehilangan rohnya. Peran kebajikan sebagai mahasiswa seolah terlupakan dan cenderung tidak dipikirkan lagi, semua itu terlihat dari kehidupan mahasiswa dewasa ini. Ketika hedonisme dielu-elukan, trend dan mode dituhankan dan kampus dijadikan jalannya yang terjadi hanyalah sebuah kekerdilan pemikiran para mahasiswa. Kampus sebagai pusat peradaban kaum intelektual pun kini tak lebih terlihat sebagai pusat fashion show mahasiswa dan tempat bermain mengisi waktu bersama teman-teman.
            Beberapa masalah yang berkaitan dengan moralitas mahasiswa yang sering ditemui  seiring dengan arus globalisasi:
¨  Salah pergaulan, apabila kita salah memilih pergaulan kita juga bisa ikut-ikutan untuk melakukan hal yang tidak baik.
¨  Orang tua yang kurang perhatian, apabila orang tua kurang memperhatikan anaknya, bisa-bisa anaknya merasa tidak nyaman berada di rumah dan selalu keluar rumah. Hal ini bisa menyebabkan remaja terkena pergaulan bebas.
¨  Ingin mengikuti trend, bsia saja awalmya para remaja merokok adalah ingin terlihat keren, padahal hal itu sama sekali tidak benar. Lalu kalu sudah mencoba merokok dia juga akan mencoba hal-hal yang lainnya seperti narkoba dan seks bebas.
¨  Himpitan ekonomi yang membuat para remaja stress dan butuh tempat pelarian.
¨  Kurangnya pendidikan Agama dan moral.
Faktor-faktor di atas sebagian besar dipengaruhi oleh perkembangan teknologi. Dengan berkembang pesatnya teknologi pada zaman sekarang ini, arus informasi menjadi lebih transparan. Kemampuan masyarakat yang tidak dapat menyaring informasi ini dapat mengganggu akhlak. Pesatnya perkembangan teknologi dapat membuat masyarakat melupakan tujuan utama manusia diciptakan, yaitu untuk beribadah.
C.     Upaya Membangun Moraliatas Mahasiswa di era Globalisasi
1.      Meningkatkan iman dan takwa dengan cara bersyukur, bersabar, dan beramal sholeh.
2.      Untuk meghindari salah pergaulan, harus pandai memilah dan memilih teman dekat. Karena pergaulan akan sangat berpengaruh terhadap etika, moral, dan akhlak.
3.      Peran orang tua, dosen, orang terdekat sangat penting dalam pembentukan karakter seseorang, terutama dalam mengenalkan pendidikan agama sejak dini. Perhatian dari orang tua juga sangat penting. Karena pada banyak kasus, kurangnya perhatian orang tua dapat menyebabkan dampak buruk pada sikap anak.
4.       Memperluas wawasan dan pengetahuan akan sangat berguna untuk menyaring pengaruh buru, pengaruh budaya asing yang tidak sesuai lingkungan, misalnya kebiasaan merokok. Dewasa ini, orang-orang menganggap bahwa merokok meningkatkan kepercayaan diri dalam pergaulan. Padahal jika dilihat dari sisi kesehatan, merokok dapat menyebabkan banyak penyakit, baik pada perokok aktif maupun pasif. Sehingga kebiasaan ini tidak hanya akan mempengaruhi dirinya sendiri, melainkan juga orang-orang di sekelilingnya.
5.      Adanya mata kuliah Pendidikan moral dan Pengembangan karakter salah satunya Pendidikan Kewarganegaraan yang didikuti mahasiswa untuk menanamkan pada diri masing-masing akan pentingnya pendidikan karakter untuk memperbaiki moral bangsa. Lalu pendidikan agama yang didalamnya terdapat berbagai pendekatan untuk menuju moral yang lebih baik.
6.      Memanfaatkan Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sebaik-baiknya.
7.      Memperteguh penanaman nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.





Bab III
Penutup
A.  Kesimpulan
Moralitas mahasiswa di era globalisasi sangat perlu diperhatikan karena globalisasi memiliki pengaruh yang besar terhadap mahasiswa sebagai agent of change yakni perubahan social yang berakibat pada krisis moral.  Mahasiswa sekarang lupa pada tugas dan hakikatnya. Mahasiswa yang katanya merupakan kaum intelektual mempunyai pemikiran kritis, analisa tajam, serta diharapkan untuk memperjuangkan masa depan bangsa, seakan-akan kehilangan rohnya. Peran kebajikan sebagai mahasiswa seolah terlupakan dan cenderung tidak dipikirkan lagi, semua itu terlihat dari kehidupan mahasiswa dewasa ini. Ketika hedonisme dielu-elukan, trend dan mode dituhankan dan kampus dijadikan jalannya yang terjadi hanyalah sebuah kekerdilan pemikiran para mahasiswa.
Berbagai kasus akibat krisis moralpun tak dapat dihindarkan, dari sikap hedonism, anarkisme, pergaulan bebas hingga seks bebas. Untuk itu perlu upaya membangun moralitas mahasiswa menjadi lebih baik dengan cara yang paling utama adalah adanya kesadaran pada pribadi masing-masing mahasiswa untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa selain itu juga perlunya menambah wawasan untuk menyaring budaya-budaya asing akibat globalisasi yang sesuai diterapkan di Indonesia karena globalisasi tidak dapat dihindari. Dukungan dari orang-orang terdekat yakni keluarga, dosen, teman-teman terutama orangtua dalam mengontrol anak-anaknya.







Daftar Pustaka
Sztompka, Piotr,2008. Sosiologi Perubahan Sosial, Jakarta : Prenada
Krisis Moralitas Mahasiswa diakses tanggal 29 Mei 2012 http://akhmadimam26.blogspot.com/favicon.ico
Sumarno, Alim. 2011 Strategi Pendidikan Agama dan Moral pada era Globalisasi. diakses pada tanggal 29 Mei 2012. http://Alimsumarno.blogspot.com
Adib, Mohammad. 2011 Peran Penting Mahasiswa Indonesia. diakses pada tanggal 30 Mei 2012. http://madib.blog.unair.ac.id/jatidiri-and-character
Purnomo, T. A.2010.Merosotnya Moral Mahasiswa sebagai AgenPembangunan di Era Global .diakses tanggal 30 Mei 2012. http://purnomo.blogspot.com/merosotnya-moral-
Makalah Globalisasi diakses tanggal 30 Mei 2012. http://www.scribd.com
CARApaedia, Pengertian dan definisi Moral-Definisi diakses tanggal 30 Mei 2012 .http://carapedia.com



Rabu, 20 Juni 2012

Bimbingan Dan Konseling


Pengertian Psikologi Perkembangan
Psikologi perkembangan ialah suatu ilmu yang merupakan bagian dari psikologi. Dalam ruang lingkup psikologi, ilmu ini termasuk psikologi khusus, yaitu psikologi yang mempelajari kekhususan dari pada tingkah laku individu.
Kegunaan psikologi perkembangan
Berikut ini akan dikemukakan kegunaan psikologi perkembangan sebagai berikut:
§ Dengan mempelajari psikologi, orang akan mengetahui fakta-fakta dan prinsip-prinsip mengenai tingkah laku manusia.
§ Untuk memahami diri kita sendiri dengan mempelajari psikologi sedikit banyak orang akan mengetahui kehidupan jiwanya sendiri, baik segi pengenalan, perasaan, kehendak, maupun tingkah laku lainnya.
§ Dengan mengetahui jiwanya dan memahami dirinya itu maka orang dapat menilai dirinya sendiri.
§ Pengenalan dan pemahaman terhadap kehidupan jiwa sendiri merupakan bahan yang sangat penting untuk dapat memahami kehidupan jiwa orang lain.
§ Dengan bekal pengetahuan psikologi juga dapat dipakai sebagai bahan untuk menilai tingkah laku normal, sehingga kita dapat mengetahui apakah tingkah laku seseorang itu sesuai tidak dengan tingkat kewajarannya, termasuk tingkat kenormalan tingkah laku kita sendiri.
Pengetahuan Psikiologi Perkembangan, sangat berguna bagi guru, yaitu dengan bekal psikologi perkembangan:
o Mereka dapat memilih dan memberikan materi pendidikan dan pengajaran yang sesuai dengan kebutuhan anak didik pada tiap tingkat perkembangan tertentu.
o Mereka dapat memilih metode pengajaran dan menggunakan bahasa yang sesuai dengan tingkat perkembangan pemahaman murid-murid mereka.
Pengertian perkembangan.
Objek psikologi perkembangan adalah perkembangan manusia sebagai pribadi. Perkembangan pribadi manusia ini berlangsung sejak konsepsi sampai mati. Perkembangan yang dimaksud adalah proses tertentu yaitu proses yang terus menerus, dan proses yang menuju ke depan dan tidak begitu saja dapat diulang kembali.
Istilah “perkembangan “ secara khusus diartikan sebagai perubahan-perubahan yang bersifat kualitatif dan kuantitatif yang menyangkut aspek-aspek mental psikologis manusia.
Jenis-Jenis dan Karakteristik Perkembangan
Elizabeth Hurlock mengemukakan jenis-jenis perubahan selama proses perkembangan dan sifat-sifat khusus dalam perkembangan.
1) Jenis-jenis perkembangan (Types of changes in Development)
Perubahan-perubahan yang terjadi dalam proses perkembangan digolongkan ke dalam 4 jenis; yaitu:
§ Perubahan dalam ukuran (changes in size)
§ Perubahan dalam perbandingan ( changes in proportion)
§ Pengertian wujud ( Disappearance of Old Features)
§ Memperoleh wujud baru ( Acquisition of New Features)
2) Sifat-sifat khusus perkembangan (Characteristics of Development)
Ada beberapa sifat khusus yang dapat kita lihat dalam perkembangan. Dan hanya diambil yang jelas menunjukkan pengaruh yang besar; yaitu:
a. Perkembangan berlangsung menurut suatu pola tertentu.
b. Perkembangan berlangsung dari sifat-sifat umum ke sifat-sifat khusus.
c. Perkembangan adalah tidak terputus-putus.
d. Perbedaan kecepatan perkembangan antara kanak-kanak akan tetap berlangsung.
e. Perkembangan dari pelbagai bagian badan berlangsung masing-masing dengan kecepatan sendiri.
f. Sifat-sifat dalam perkembangan ada sangkut pautnya antara satu dengan lainnya.
g. Perkembangan dapat dikira-kirakan lebih dahulu.
h. Tiap-tiap fase perkembangan mempunyai coraknya masing-masing.
i. Apa yang disebut sikap yang menjadi persoalan kerapkali sikap biasa sesuai dengan umurnya.
j. Tiap-tiap orang yang normal akan mencapai masing-masing fasenya terakhir dalam perkembangan.

Gerund in English


Gerunds in English
In English, the gerund is identical in form to the present participle (ending in -ing) and can behave as a verb within a clause (so that it may be modified by an adverb or have an object), but the clause as a whole (sometimes consisting of only one word, the gerund itself) acts as a noun within the larger sentence. For example: Eating this cake is easy.
In "Eating this cake is easy," "eating this cake," although traditionally known as a phrase, is referred to as a non-finite clause in modern linguistics. "Eating" is the verb in the clause, while "this cake" is the object of the verb. "Eating this cake" acts as a noun phrase within the sentence as a whole, though; the subject of the sentence is the non-finite clause, specifically eating.
Other examples of the gerund:
  • I like swimming. (direct object)
  • Swimming is fun. (subject)
Gerund clauses:
  • She is considering having a holiday.
  • Do you feel like going out?
  • I can't help falling in love with you.
  • I can't stand not seeing you.
Not all nouns that are identical in form to the present participle are gerunds.[3] The formal distinction is that a gerund is a verbal noun – a noun derived from a verb that retains verb characteristics, that functions simultaneously as a noun and a verb, while other nouns in the form of the present participle (ending in -ing) are deverbal nouns, which function as common nouns, not as verbs at all. Compare:
  • I like fencing. (gerund, an activity, could be replaced with "to fence")
  • The white fencing adds to the character of the neighborhood. (deverbal, could be replaced with an object such as "bench")
Double nature of the gerund
As the result of its origin and development, the gerund has nominal and verbal properties. The nominal characteristics of the gerund are as follows:
  1. The gerund can perform the function of subject, object and predicative:
    • Smoking endangers your health. (subject)
    • I like making people happy. (object)
  2. The gerund can be preceded by a preposition:
    • I'm tired of arguing.
  3. Like a noun the gerund can be modified by a noun in the possessive case, a possessive adjective, or an adjective:
    • I wonder at John's keeping calm.
    • Is there any objection to my seeing her?
    • Brisk walking relieves stress.
The verbal characteristics of the gerund include the following:
  1. The gerund of transitive verbs can take a direct object:
    • I've made good progress in speaking Basque.
  2. The gerund can be modified by an adverb:
    • Breathing deeply helps you to calm down.
  3. The gerund has the distinctions of aspect and voice.
    • Having read the book once before makes me more prepared.
    • Being deceived can make someone feel angry.
Verb patterns with the gerund
Verbs that are often followed by a gerund include admit, adore, anticipate, appreciate, avoid, carry on, consider, contemplate, delay, deny, describe, detest, dislike, enjoy, escape, fancy, feel, finish, give, hear, imagine, include, justify, listen to, mention, mind, miss, notice, observe, perceive, postpone, practice, quit, recall, report, resent, resume, risk, see, sense, sleep, stop, suggest, tolerate and watch. Additionally, prepositions are often followed by a gerund.
For example:
  • I will never quit smoking.
  • We postponed making any decision.
  • After two years of analyzing, we finally made a decision.
  • We heard whispering.
  • They denied having avoided me.
  • He talked me into coming to the party.
  • They frightened her out of voicing her opinion.
Verbs followed by a gerund or a to-infinitive
With little change in meaning
advise, recommend and forbid:
These are followed by a to-infinitive when there is an object as well, but by a gerund otherwise.
  • The police advised us not to enter the building, for a murder had occurred. (Us is the object of advised.)
  • The police advised against our entering the building. (Our is used for the gerund entering.)
consider, contemplate and recommend:
These verbs are followed by a to-infinitive only in the passive or with an object pronoun.
  • People consider her to be the best.She is considered to be the best.
  • I am considering sleeping over, if you do not mind.
begin, continue, start; hate, like, love, prefer
With would, the verbs hate, like, love, and prefer are usually followed by the to-infinitive.
  • I would like to work there. (more usual than working)
When talking about sports, there is usually a difference in meaning between the infinitive and gerund (see the next section).
With a change in meaning
like, love, prefer
In some contexts, following these verbs with a to-infinitive when the subject of the first verb is the subject of the second verb provides more clarity than a gerund.
  • I like to box. (I enjoy doing it myself.)
  • I like boxing. (Either I enjoy watching it, I enjoy doing it myself, or the idea of boxing is otherwise appealing.)
  • I do not like gambling, but I do like to gamble."
dread, hate and cannot bear:
These verbs are followed by a to-infinitive when talking subjunctively (often when using to think), but by a gerund when talking about general dislikes.
  • I dread / hate to think what she will do.
  • I dread / hate seeing him.
  • I cannot bear to see you suffer like this. (You are suffering now.)
  • I cannot bear being pushed around in crowds. (I never like that.)
forget and remember:
When these have meanings that are used to talk about the future from the given time, the to-infinitive is used, but when looking back in time, the gerund.
  • She forgot to tell me her plans. (She did not tell me, although she should have.)
  • She forgot telling me her plans. (She told me, but then forgot having done so.)
  • I remembered to go to work. (I remembered that I needed to go to work.)
  • I remembered going to work. (I remembered that I went to work.)
go on:
  • After winning the semi-finals, he went on to play in the finals. (He completed the semi-finals and later played in the finals.)
  • He went on giggling, not having noticed the teacher enter. (He continued doing so.)
mean:
  • I did not mean to scare you off. (I did not intend to scare you off.)
  • Taking a new job in the city meant leaving behind her familiar surroundings. (If she took the job, she would have to leave behind her familiar surroundings.)
regret:
  • We regret to inform you that you have failed your exam. (polite or formal form of apology)
  • I very much regret saying what I said. (I wish that I had not said that.)
try:
When a to-infinitive is used, the subject is shown to make an effort at something, attempt or endeavor to do something. If a gerund is used, the subject is shown to attempt to do something in testing to see what might happen.
  • Please try to remember to post my letter.
  • I have tried being stern, but to no avail.
stop, quit:
When the infinitive is used after 'stop' or 'quit', it means that the subject stops one activity and starts the activity indicated by the infinitive. If the gerund is used, it means that the subject stops the activity indicated by the gerund.
  • She stopped to smell the flowers.
  • She stopped smelling the flowers.
Or more concisely:
  • She stopped walking to smell the flowers.
  • He quit working there to travel abroad.