Rabu, 26 Desember 2012

Belajar dan Pembelajaran



BELAJAR dan PEMBELAJARAN
            Banyak negara mengakui bahwa persoalan pendidikan merupakan persoalan yang pelik, namun semuanya merasakan bahwa pendidikan merupakan tugas negara yang amat penting. Di negara-negara berkembang, adopsi sistem pendidikan dari luar sering kali mengalami kesulitan untuk berkembang. Cara dan sistem pendidikan sering kali menjadi sasaran kecaman dan kritik. Karena seluruh daya guna sistem pendidikan tersebut dilakukan.
A.    TEORI DESKRIPTIF DAN TEORI PRESKIPTIF
Teori belajar adalah deskriptif karena tujuan utamanya memberikan proses belajar, sedangkan teori pembelajaran adalah prespektif karena tujuan utamanya menetapkan metode pembelajaran yang optimal.
a)      Teori Deskriptif dan Teori Perspektif
Burner (dalam Degeng, 1989) mengemukakan bahwateori pembelajaran adalah prespektif dan teori belajar adalah deskriptif. Perspektif karena tujuan utamanya adalah menetapkan metode pembelajaran yang optimal, sedangkan deskriptif karena tujuan utama belajar adalah proses belajar.
Teori belajar menaruh perhatian pada hubungan di antara variabel-variabel yang menentukan hasil belajar. Teori ini menentukan bagaimana seseorang belajar. Upaya dari Burner untuk membedakan antara teori belajar yang deskriptif dan teori belajar yang perspektif di kembangkan lebih lanjut oleh Reigeluth dan kawan-kawan, bahwa Teori-teori dan prinsip-prinsip pembelajaran yang deskriptif menempatkan variabel kondisi dan metode pembelajaran sebagai givens, dan menempatkan hasil pembelajaran sebagai variabel yang diamati.
Teori belajar perspektif di maksudkan untuk mencapai tujuan, sedangkan teori belajar deskriptif di maksudkan untuk memberikan hasil.
a.       Teori belajar deskriptif, variabel kondisi dan metode adalah variabel bebas dan parameter kedua variabel ini berinteraksi untuk menghasilkan efek pada variabel hasil pembelajaran, sebagai variabel tergantung.
b.      Teori perspektif, variabel kondisi dan hasil yang diinginkan, yang mungkin juga berinteraksi dan parameter keduanya ini digunakan untuk menetapkan metode pembelajaran yang optimal, sebagai variabel tergantung.
Hasil yang diamati dalam pengembangan teori perspektif adalah hasil pembelajaran yang diinginkan yang telah ditetapkan terlebih dahulu., sedangkan dalam pengembangan teori deskriptif yang diamati adalah hasil belajar yang nyata dalam pengertian probabilistik, hasil pembelajaran yang mungkin muncul bisa jadi bukan merupakan hasil pembelajaran yang diinginkan.
b)     Proposisi Teori Deskriptif dan Perspektif
Dalam proposisi teori teoritik yang pertama, model pengorganisasian pembelajaran (model elaborasi) di tetapkan sebagai perlakuan, di bawah kondisi karakteristik isi pelajaran, untuk memeriksakan perubahan unjuk kerja (actual outcomes), berupa peningkatan perolehan belajar dan retensi. Dalam proposisi teoritik yang kedua (teori perspektif) peningkatan perolehan belajar dan retensi di tetapkan sebagai hasil pembelajaran yang diinginkan, dan model elaborasi yang meupakan salah satu model untuk mengorganisasi isi/materi pelajaran, mempunyai peluang untuk menjadi metode yang optimal untuk mencapai pembelajaran yang diinginkan.dalam hal ini hasil dan kondisi belajar pembelajaran terlebih dahulu untuk dipilih baru kemudian memilih metode yang optimal untuk mencapai hasilpembelajaran yang diinginkan tersebut. Sebaliknya dalam teori belajar deskriptif metode pembelajaran dimanipulasi di bawah kondisi tertentu, dan baru melakukan pengamatan pada hasil pembelajaran.
c)      Teori Belajar dan Teori Pembelajaran Kaitannya Dengan Deskriptif dan Teori Prespektif
Teori belajar mengungkapkan hubungan antara kegiatan pembelajaran dengan proses-proses psikologi dalam diri si belajar, sedangkan teori belajar mengungkapkan hubungan antara kegiatan si belajar dengan proses-proses psikologis dalam diri si belajar. Teori pembelajaran harus memasukkan variabel metode pembelajaran. Bila tidak, teori itu bukan teori pembelajaran. Teori pembelajaran selalu menyebutkan metode pembelajaran, sedangkan teori belajar tidak berurusan dengan metode pembelajaran.

B.     TEORI BELAJAR BEHAVIORISTIK DAN PENERAPANNYA DALAM PEMBELAJARAN
1)      Menurut Teori behavioristik, belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai akinat dari adanya interaksi antara stimulus dan respon. Dengan kata lain belajar merupakan bentuk merupakan perubahan dialami siswa dalam hal kemampuan untuk bertingkah laku dengan cara yang baru sebagai hasil interaksi antara stimulus dan respon. Yang terpenting menurut teori ini adalah masukan atau input yang berupa stimulus dan keluaran yaitu output.
2)      Teori Belajar Menurut Thorndike
Belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon. Stimulus yaitu apa saja yang dapat merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran, perasaan, dll yang dapat di tangkap melalui alat indera. Respon, yaitu reaksi yang di munculkan peserta didik ketika belajar, yang juga dapat berupa pikiran, perasaan atau tindakan/gerakan.


C.    Aplikasi Teori Behavioristik Dalam Kegiatan Pembelajaran
Aliran psikologi belajar yang sangat besar mempengaruhi arah pengembangan teori dan praktek pendidikan dan pembelajaran hingga kini adalah aliran behavioristik.
Teori behavioristik masih di rasakan manfaatnya dalam kegiatan pembelajaran. Selain teori ini telah mampu memberikan sumbangan dan motivasi bagi lahirnya teori-teori belajar yang baru, juga karena  prinsip-prinsipnya terasa masih dapat di daplikasikan secara praktis dalam pembelajaran hingga kini.


D.    TEORI BELAJAR KOGNITIF
            Pengertian belajar menurut teori kognitif adalah perubahan persepsi dan pemahaman yang tidak selalu berbentuk tingkah laku yang dapat diamati dan dapat diukur. Asumsi teori ini adalah bahwa setiap orang telah memiliki pengetahuan dan pengalaman yang tertata dalam bentuk struktur kognitif yang dimilikinya. Proses belajar akan berjalan dengan baikjika materi pelajaran atau info baru beradaptasi dengan struktur kognitif yang telah dimiliki seseorang. Di antara pakar teori kognitif, ada 3 yang terkenal yaitu Piaget, Bruner dan Asubel. Dalam kegiatan pembelajaran, keterlibatan siswa secara aktif amat dipentingkan. Untuk menarik minat dan meningkatkan retensi belajar perlu mengkaitkan pengetahuan baru dengan struktur kognitif yang telah dimiliki siswa. Perbedaan individual pada diri siswa perlu diperhatikan. Asubel mengatakan bahwa proses belajar terjadi jika seseorang mampu menasimilasikan pengetahuan yang telah dimilikinya dengan pengetahuan baru. Proses belajar akan terjadi melalui tahap-tahap memperhatikan stimulus, memahami makna stimulus, menyimpan dan menggunakan informasi yang sudah dipahami. Dalam kegiatan pembelajaran keterlibatan siswa secara aktif amat dipentingkan. Untuk menarik minat dan meningkatkan retensi belajar perlu mengaitkan pengetahuan baru dengan struktur kognitif yang telah dimiliki siswa.

E.     TEORI BELAJAR KONSTRUKTIF DAN PENERAPANNYA DALAM PEMBELAJARAN
Usaha mengembangkan manusia dan masyarakat yang memiliki kepekaan, mandiri, bertanggungjawab, dapat mendidik dirinya sendiri sepanjang hayat, serta mampu berkolaborasi dalam memecahkan masalah. Di perlukan layanan pendidikan yang mampu melihat kaitan antara ciri-ciri manusia tersebut, dengan praktek-praktek pendidikan dan pembelajaran untuk mewujudkannya. Pandangan konstruktivistik yang mengemukakan bahwa belajar merupakan usaha pemberian makna oleh siswa kepada pengalamannya melalui asimilasi dan akomodasi yang menuju pada pembentukan struktur kognitifnya, memungkinkan mengarah kepada tujuan tersebut. Oleh karena itu pembelajaran diusahakan agar dapat memberikan kondisi terjadinya proses pembentukan tersebut secara optimal pada diri siswa.
Proses belajar sebagai suatu usaha pemberian makna oleh siswa kepada pengalamannya melalui proses asimilasi dan akomodasi, akan membentuk suatu konstruksi pengetahuan yang menuju pada kemutakhiran struktur kognitifnya. Guru-guru konstruktivistik yang  mengakui dan menghargai dorongan diri manusia/siswa untuk mengonstruksikan pengetahuannya sendiri, kegiatan pembelajaran yang dilakukannya akan diarahkan agar terjadi aktivitas konstruksi pengetahuan oleh siswa secara optimal.
Karakteristik pembelajaran yang dilakukannya adalah:
a.       Membebaskan siswa dari belenggu kurikulum yang berisi fakta-fakta lepas yang sudah ditetapkan dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan ide-idenya secara lebih luas.
b.      Menempatkan siswa sebagai kekuatan timbulnya interes, untuk membuat hubungan di antara ide-ide atau gagasan kemudian memformulasikan kembali ide-ide tersebut, serta membuat kesimpulan-kesimpulan.
c.        Guru-guru bersama-sama siswa mengkaji pesan-pesan penting bahwa dunia adalah kompleks, di mana terdapat bermacam-macam pandangan tentang kebenaran yang datangnya dari berbagai interpretasi.
d.      Guru mengakui bahwa proses belajar serta penilainnya merupakan suatu usaha yang kompleks, sukar di pahami tidak teratur, dan tidak mudah dikelola.


F.     APLIKASI TEORI BELAJAR HUMANISTIK DALAM KEGIATAN PEMBELAJARAN
Teori humanistik sering di kritik karena sukar diterapkan dalam konteks yang lebih praktis. Teori  ini di anggap lebih dekat dengan bidang filsafat, teori kepribadian dan psikoterapi dari pada bidang pendidikan, sehingga sukar menerjemahkannya ke dalam yang lebih konkret dan praktis.
Namun karena sifatnya yang ideal, yaitu memanusiakan manusia maka teori humanistik mampu memberikan arah terhadap semua komponen pembelajaran untuk mendukung tercapainya tujuan tersebut.
Semua komponen pendidikan termasuk tujuan pendidikan diarahkan pada terbentuknya manusia yang ideal. Manusia yang dicita-citakan, yaitu manusia yang mampu mencapai aktuilasi diri. Untuk itu perlu di perhatikan bagaimana perkembangan peserta didik dalam mengaktulisasikan dirinya, pemahaman terhadap dirinya, serta realisasi diri. Pengalaman emosional dan karakteristik khusus individu dalam belajar perlu diperhatikan oleh guru dalam merencanakan pembelajaran.
Karena seseorang akan belajar dengan baik jika mempunya pengertian tentang dirinya sendiri dan dapat membuat pilihan-pilihan secara bebas kearah mana ia akan berkembang. Dengan demikian, teori humanistik mampu menjelaskan bagaimana tujuan yang ideal tersebut dapat tercapai.
Teori humanistik akan sangat membantu para pendidik dalam upaya memahami arah belajar pada dimensi yang lebih luas. Sehingga upaya pembeljaran apapun dan manapun akan selalu diarahkan dan dilakukan untk mencapai tujuannya.
Kegiatan pembelajran yang dirancang serta sistematis, tahap demi tahap secara ketat, sebagaimana tujuan-tujuan pembelajaran yang telah dinyatakan secara eksplisit dan diukur, kondisi belajar yang diatur dan ditentukan , serta pengalaman-pengalaman belajar yang dipilih untuk siswa, mungkin saja berguna bagi guru tetapi tidak berarti bagi siswa (Rogers dalam Snelbecker, 1974).
Dalam prakteknya ini, teori humanistik lebih cenderung mengarahkan siswa untuk berpikir induktif, mementingkan pengalaman, serta membutuhkan keterlibatan siswa secara aktif dalam proses belajar.
Beberapa tokoh pengantu teori humanistik, yaitu:
·         Kolb; konsepnya tentang 4 tahap dalam belajar yaitu pengalaman konkret, pengalaman aktif dan reflektif, konseptualisasi, dan eksperimentasi aktif.
·         Honey dan Mumford; menggolongkan siswa menjadi 4, yaitu aktifis, reflektor, teoris, dan pragmantis.
·         Hubermas; membedakan 3 macam atau tipe belajar, yaitu belajar teknis, belajar praktis, dan belajar emansipatoris.

G.    TEORI BELAJAR SIBERNETIK DAN PENERAPANNYA DALAM PEMBELAJARAN
Teori belajar sibernetik merupakan teori belajar yang relatif baru dibandingkan teori-teori belajar lainnya. Teori ini berkembang sejalan dengan perkembangan teknologi dan informasi. Menurut teori sibernetik, belajar adalah pemrosesan informasi. Teori ini lebih mementingkan sistem informasi dari pesan atau materi yang dipelajari. Bagaimana proses belajar akan berlangsung sangat ditentukan oleh sistem informasi dari pesan tersebut. Oleh sebab itu, teori sibernetik berasumsi bahwa tidak ada satu jenispun cara belajar yang ideal untuk segala situasi. Sebab cara belajar sangat ditentukan oleh sistem informasi dari sistem tersebut.
Teori ini dikembangkan oleh para penganutnya antara lain seperti pendekatan-pendekatan yang berorientasi pada pemrosesan informasi yang dikembangkan oleh Gage dan Berliner., Biehlier dan Snowman, Baine, serta Tennyson.
Pask dan Scott membagi siswa menjadi tipe menyeluruh atau Wholist dan tipe serial atau serialist. Mereka mengatakan bahwa siswa yang bertipe wholist cenderung mempelajari sesuatu dari yang paling umum menuju ke hal-hal yang lebih khusus, sedangkan siswa dengan tipe serialist dalam berpikir atau menggunakan cara setahap demi setahap atau linear.
Aplikasi teori pengolahan informasi dalam pembelajaran antara lain dirumuskan dalam teori Gagne dan Briggs yang mendeskripsikan adanya; kapabilitas belajar, peristiwa pembelajaran, dan pengorganisasian atau urutan belajar.
Keunggulan strategi pembelajaran yang berpihak pada teori pemrosesan informasi, yaitu:
a.       Cara berpikir yang berorientasi pada proses lebih menonjol.
b.      Penyajian pengetahuan memenuhi aspek ekonomis.
c.       Kapabilitas belajar dapat disajikan lebih lengkap
d.      Adanya transfer belajar pada lingkungan kehidupan yang sesungguhnya.
e.       Menyajikan materi dan membimbing siswa belajar dengan pola yang sesuai dengan urutan materi pelajaran
f.       Menyusun materi pelajaran  dalam urutan yang sesuai dengan sistem informasinya.

H.    TEORI BELAJAR REVOLUSI-SOSIOKULTURAL DAN PENERAPANNYA DALAM PEMBELAJARAN
Pemikiran tentang pendidikan keterampilan sudah lama ditemukan. Keterampilan bukan hanya sekedar keterampilan bekerja apalagi keterampilan untuk keterampilan  itu sendiri. Keterampilan dalam makna yang luas diartikan sebagai keterampilan demi kehidupan dan penghidupan yang bermartabat dan sejahtera lahir batin. Keerampilan hidup inilah yang dalam praktek kependidikan perlu dimaknai dan dalam praktek pembelajaran dikelas.
Upaya melakukan intensifikasi dan eksistensifikasi pendidikan keterampilan sangatlah diperlukan, karena banyaknya lulusan sekolah umum yang tidak dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, serta daya serap ekonomi  yang terbatas juga memerlukan tenaga terampil dan bermutu. Keterampilan-keterampilan yang bersifat kejuruan, intelektual, sosial dan managerial, serta keterampilan-keterampilan yang berhubungan dengan tuntutan pasar yang bervariasi sesuai dengan perubahan-perubahan yang terjadi dalam masyarakat, perlu dilatihkan pada anak.
Kecerdasan ganda yang dikemukakan oleh Gardner yang kemudian dikembangkan oleh para tokoh lain, terdiri dari kecerdasan verbal/bahasa, kecerdasan logika/matematik, keceradasan visual/ruang, kecerdasan tubuh/gerak tubuh, kecerdasan musikal/ritmik, kecerdasan interperosnal, kecerdasan intrapersonal, kecerdasan naturalis, kecerdasan spiritual dan kecerdasan eksistensial, perlu dilatihkan dalam rangka mengembangkan keterampilan hidup. Semua kecerdasan ini sebagai satu kesatuan yang utuh dan terpadu. Komposisi keterpaduannya berbeda-beda pada masing-masing orang dan pada masing-masing budaya. Namun secara keseluruhan semua kecerdasan tersebut dapat diubah dan ditingkatkan. Kecerdasan yang paling menonjol akan mengontrol kecerdasan-kecerdasan lainya dalam memecahkan masalah. Para pakar kecerdasan sebelum Gardner cenderung memberikan tekanan terhadap kecerdasan hanya terbatas pada aspek kognitif. Sehingga manusia telah teredukasi menjadi sekedar komponen kognitif. Gardner melakukan hal yang berbeda ia memandang manusia tidak hanya sekedar komponen kognitif, namun suatu keseluruhan.
Melalui teori kecerdasan ganda, ia berusaha menghindari adanya penghakiman terhadap manusia dari sudut pandang kecerdasan. Tidak ada manusia yang sangat cerdas dan tidak cerdas untuk seluruh aspek yang ada pada dirinya. Yang ada adalah apa yang dimilikinya. Mungkin seseorang telah memiliki kecerdasan tinggi untuk kecerdasan logika–matematika tetapi tidak untuk  kecerdasan musik kecerdasan body-kinetik.
Strategi kecerdasan pembelajaran kecerdasan ganda agar semua potensia anak dapat berkembang. Strateg dasar permbelajaran dimulai dengan:
a.       Menggunakan atau memicu kecerdasan
b.      Memperkuat kecerdasan
c.       Mengajarkan dengan/atau untuk kecerdasan
d.      Dan mentransfer kecerdasan.
Sedangkan kegiatannya dapat dilakukan dengan cara menyediakan hari-hari karir, study tour, biografi, pembelajaran terprogram, eksperimen, majalah dinding, papan display, membaca buku untuk mengembangkan kecerdasan ganda, membuat  tabelperkembangan kecerdasan ganda. Upaya memeberdayakan siswa sendiri berupa self-morning dan konseling atau tutor sebaya akan sangat efektif untuk mengembangkan kecerdasan ganda. Dari sudut pandang teori humanistik, dasar-dasar teori kecerdasan ganda memang sangat humanis. Psikologi humanistik selalu memberi tekanan pada positive regards, acceptance, awarenees, self-worth, yang semuanya itu itu bermuara pada aktualisasi diri yang optimal.

Rabu, 22 Agustus 2012


Tak Akan Tergantikan


bunga Masih teringat dengan jelas saat tangan itu membelaiku
Terasa terbang seluruh beban yang menghimpit ini
Rasanya nyaman, aman dan tentram dalam dekapmu
Yang melukiskan seribu cinta tak terkatakan
Dicintamu
Kudapatkan apa yang kusebut kemurnian dan ketulusan yang sejati
Yang begitu mudahnya dipermainkan oleh orang lain
Yang mengira itu adalah cinta sejati
Disenyummu
Kutemukan kebahagiaan sejati yang lahir dari hati yang iklas
Yang kadang hanya dijadikan topeng oleh orang lain
Dengan tujuan menunjukan keramahan palsu
Dimarahmu
Kudapatkan yang dinamakan pengajaran untuk menunjukkan benar dari salah
Yang kadang diputar balikan oleh orang lain
Hanya untuk menutupi kesalahan diri dan melepaskan tanggungjawab
Jika membandingkanmu dengan orang lain
Seperti membandingkan batu berlian dengan batu kali
Seperti membandingkan emas murni dengan imitasi
Seperti membandingkan ketulusan dan kemunafikan
Memang sosokmu tak akan pernah tergantikan
Tak akan pernah terbandingkan
Tak akan pernah dapat dibandingkan dengan apapun
Karena dirimulah pribadi yang membuat aku seperti ini
Dengan cintamu, belaianmu, amarahmu, pengorbananmu
Kau membentuk pribadi yang lemah menjadi tegar
Pribadi yang merepotkan menjadi mandiri
Tak pernah bisa kubayangkan jika aku tanpamu dan tak pernah bersamamu
Akan seperti apa hidupku nantinya
Dan kau adalah malaikat luar biasa yang diberikan Tuhan untukku
Yang dengan lembut aku memanggilmu…… Ibu


Kaulah Malaikat penjaga dalam hidupku
Kaulah pelita dalam gelapku
Kaulah pegangan dalam rapuhku
Kaulah penolong dalam susahku
Tak pernah sedikitpun kudengar kau mengeluh
Padahal aku nakal dengan semua perbuatanku
Kumerajuk dengan semua keinginanku
Dan kumarah jika tak terpenuhi apa yang kumau
Tak Pernah sedikitpun kau kecewa
Padahal nilai pelajaranku banyak yang buruk
Padahal aku suka membantah saat kau beri nasehat
Dan aku tahu banyak hal buruk yang telah aku lakukan
Ayah dan Ibu
Luar biasa kesabaran dan cintamu padaku
Luat biasa pengorbanan dan pengampunanmu padaku
Luar biasa semua yang telah kau lakukan untukku
Betapa beruntungnya aku lahir darimu
Dibesarkan dan dijaga olehmu
Jika bukan karenamu tak akan bisa aku seperti ini
Berdiri tegar sampai hari ini
Sekalipun kukumpulkan banyak uang, tak akan terbayar jasamu
Sekalipun kukorbankan seluruh kehidupanku, tak tertandingi dengan jasamu
Sekalipun seluruh dunia kuserahkan dibawah kakimu, tak tersaingi cintamu
tak akan sebanding apa yang bisa kuberikan dengan apa yang telah kau berikan
Ayah dan Ibu
Terima kasih, terima kasih, terima kasih untuk semuanya
Cintamu, kesabaranmu, pengorbananmu, pemeliharaanmu
Tuhan
terima kasih untuk ayah dan ibu yang telah Kau beri

Senin, 20 Agustus 2012

English EDUCATION


  • Adverbial phrases are so-called because they can occur in the same range of positions as single adverbs; but many such adverbial phrases, paradoxically, do not contain an adverb. Such adverb-less adverbial phrases are typically prepositional phrases, as [italicized] in the examples below:
- On Friday night, I'm playing squash.
- Their marriage broke up in the most painful way.
- May I, on behalf of the shareholders, congratulate you?
(Jame R. Hurford, Grammar: A Student's Guide. Cambridge Univ. Press, 1994)

  • "Like adverbs, adverb phrases can cause confusion because there is some flexibility in where they occur within sentences, and even in modifying the sentence structure. As well, adverb phrases are sometimes embedded into other phrases.

    "Examples are:
a. 'Laura, a better, gentler, more beautiful Laura, whom everybody, everybody loved dearly and tenderly.' [Norris]
[ADVERB PHRASE]

b. 'He had taken her hand sympathizingly, forgivingly, but his silence made me curious.' [Michelson]
[ADVERB PHRASE]

c. 'David, on the lowest step, was very evidently not hearing a word of what was being said.' [Porter]
[ADVERB PHRASE EMBEDDED INTO
VERB PHRASE]
Our first example identifies an adverb phrase following the verb loved; the next example shows an adverb phrase following the noun hand and removed from the verb it modifies; the third example has an adverb phrase embedded into a verb phrase was . . . hearing. Such flexibility makes it more difficult to identify these phrases; therefore, noting the head adverb can be of help."
(Bernard O'Dwyer, Modern English Structures: Form, Function, and Position. Broadview, 2006)

Cry


Perpisahan yang Tak Pernah Ku Inginkan

Waktu ini terus berjalan
Meski perlahan tp pasti
Melenyapkan sebuah kisah
Antara kau dan aku

Terima kasih kuucapkan kepadamu
Yang telah merubah duniaku
Walau akhirnya harus aku yang mengalah kepadanya
Tapi aku takkan pernah menyesal mencintaimu

Perpisahan ini bukanlah sebuah akhir
Namun, ini merupakan sebuah awal
Awal untuk melepasmu
Awal untuk merelakanmu
Dan awal untuk mengenangmu

Aku tak pernah menginginkan ini terjadi
Rasanya waktu ini cepat sekali berputar
Andaikan aku diberi waktu 1 hari lagi
Aku pasti takkan menyia-nyiakannya

Kamis, 21 Juni 2012

Membangun Moralitas Mahasiswa


Bab I
Pendahuluan
A.    Latar Belakang
Mahasiswa memiliki potensi yang besar, tantangan dan juga tanggung jawab di jamannya. Tantangan mahasiswa adalah menjaga generasinya tetap baik dan lebih baik dari yang dulu. Mahasiswa sebagai agent of change dituntut untuk mengambil peran didalam tantangan yang berupa perubahan sosial. Perubahan tersebut mengikuti zamannya seperti globalisasi dan modernisasi sehingga menimbulkan kekhawatiran masyarakat  yaitu krisis moral.
Mahasiswa pada era globalisasi sekarang ini seperti kehilangan arah dan tujuan. Mahasiswa terjebak pada lingkaran dampak globalisasi yang lebih mengedepankan corak hedonisme dan apatisme. Mahasiswa bersifat anarkisme dalam menyuarakan kepentingan rakyat merupakan corak dan stigma negative yang seakan-akan menyudutkan posisi mereka. Bahkan banyak masyarakat yang menganggap mahasiswa sekarang disibukkan oleh tawuran antar sesame dan bentrokan terhadap aparat penegak hokum. Sehingga pada akhirnya keamanan masyarakat menjadi terganggu dan kehidupan pembelajaran di kampus tidak kondusif.
Itulah kekhawatiran adanya krisis moral mahasiswa yang seharusnya menjadi agen perubahan social lebih baik tetapi terhalang oleh kebahagiaan dunia semata. Untuk itu makalah ini membahas tentang contoh kasus moralitas mahasiswa sebagai dampak globalisasi serta upaya untuk membangun moralitas mahasiswa yang lebih baik.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian moralitas, mahasiswa, globalisasi?
2.      Studi  kasus moralitas mahasiswa sebagai dampak globalisasi?
3.      Bagaimana upaya untuk membangun moralitas mahasiswa di era globalisasi?

C.   Tujuan
1.      Untuk mengetahui pengertian dari moralitas, mahasiswa, dan globalisasi.
2.      Untuk mengetahui kasus moralitas mahasiswa sebagai dampak globalisasi.
3.      Untuk mengetahui upaya membangun moralitas mahasiswa sehingga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Bab II
Pembahasan
A.      Pengertian Moralitas, Mahasiswa dan Globalisasi
a.1. Pengertian Moralitas                                              
Menurut Sonny Keraf :
“Moral menjadi tolak ukur yang dipakai masyarakat untuk menentukan baik buruknya tindakan manusia sebagai manusia, mungkin sebagai anggota masyarakat atau sebagai orang dengan jabatan tertentu atau profesi tertentu.” 

Moral yang dimaksud dalam makalah ini adalah sesuatu yang berhubungan atau berkaitan dengan menentukan baik buruknya dalam bertindak mahasiswa dalam menentukan perilakunya.
Sedangkan moralitas menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia :
“Moralitas adalah sopan santun, segala sesuatu yg berhubungan dengan etika atau adat sopan santun.
a.2. Pengertian Mahasiswa      
Kata mahasiswa sendiri terdiri dari kata maha dan siswa, maha berarti sangat, tinggi sedangkan siswa berarti murid, pelajar.
Menurut PP RI No 30 tahun 1990:
 “Mahasiswa adalah peserta didik yang terdaftar dan belajar di perguruan tinggi tertentu. Mahasiswa merupakan suatu kelompok dalam masyarakat yang memperoleh statusnya karena ikatan dalam perguruan tinggi.

Sedangkan menurut kamus besar bahasa indonesia:
“Mahasiswa adalah orang yang belajar diperguruan tinggi.”
a.3. Pengertian Globalisasi
Kata “globalisasi” diambil dari kata global, yang maknanya universal. Globalisasi diartikan sebagai proses yang menghasilkan dunia tunggal ( Robertson, 1992 : 396). Masyarakat diseluruh dunia menjadi saling tergantung di semua aspek kehidupan.
Menurut Malcom Waters :
“Globalisasi adalah sebuah proses social yang berakibat bahwa pembatasan geografis pada keadaan social budaya menjadi kurang penting, yang terjelma didalam kesadaran orang.”

B.  Studi Kasus Moralitas Mahasiswa sebagai dampak globalisasi
Berikut merupakan contoh-contoh kasus dan permasalahan moralitas mahasiswa sebagai dampak globalisasi :
1.      Malam menjelang ujian esok hari, seorang mahasiswa malas belajar dan memilih untuk bermain game dan browsing menggunakan internet semalaman. Hingga keesokan harinya mahasiswa ini bangun kesiangan. Meskipun terlambat, dia tetap diperbolehkan mengikuti ujian. Dengan Hand Phone miliknya dia menanyakan jawaban kepada teman lain melalui sms, sesekali mahasiswa ini mencari jawaban melalui internet.
Kasus tersebut memberikan kemudahan pada mahasiswa akan tetapi memberikan dampak negative yakni ketidakadanya rasa kejujuran pada mahasiswa. Mahasiswa seakan lupa dengan tanggungjawabnya sebagai seorang mahasiswa.
2.      Seorang mahasiswi metropolitan yang sangat tertarik dengan fashion up to date. Setiap hal yang berhubungan dengan fashion selalu dihampirinya. Belanja untuk kepuasan pribadi mengahmbur-hamburkan uang membeli barang yang kurang bahkan tidak penting.   
Dengan cepatnya perkembangan teknologi yang merupakan bagian dari arus Globalisasi sangat mudah untuk diakses saat ini, sehingga dengan gaya hidup seperti itulah mahasiswi tersebut mulai berperilaku menyimpang. Contohnya seperti memakai pakaian yang tidak menutup aurat. Hal ini sangat bertentangan dengan budaya timur yang dikenal sangat menjunjung tinggi etika dan moral.
3.      Mahasiswa/i merasa tertekan oleh pelajaran di kampus, masalah keluarga bisa ekonomi, broken home, dan lain-lain. Mereka melampiaskan kekesalan dengan mencari teman baru. Tanpa berpikir panjang teman yang mereka pilih ternyata Bandar narkoba. Dengan mudahnya mahasiswa dipengaruhi untuk mengonsumsi barang haram tersebut.
4.      Sebuah kasus yang menunjukan begitu rentannya pelajar dan mahasiswa mengalami kerusakan moral adalah di Yogyakarta yang dikenal sebagai kota pelajar. Sebuah penelitian menyebutkan bahwa sekitar 80% mahasiswi di sana telah kehilangan keperawanan. (Tapurnomo.blogspot.com/2010/03/mero)
Karakter hedonisme yang mengakibatkan mahasiswa/i kehilangan arah dalam mencapai cita-cita pendidikan. Mereka terjerumus kedalam pergaulan bebas yang pada akhirnya membawa mereka ke minum-minuman keras, narkoba hingga seks bebas. Hilangnya kendali dalam diri mereka karena pola pikir dan main set yang telah terkontaminasi oleh desakan abstrak.
Ironis, mahasiswa sekarang sudah lupa pada tugas dan hakikatnya, ibarat sebuah peribahasa yaitu “bagai macan yang kehilangan taringnya”. Mahasiswa yang katanya merupakan kaum intelektual mempunyai pemikiran kritis, analisa tajam, serta diharapkan untuk memperjuangkan masa depan bangsa, seakan-akan kehilangan rohnya. Peran kebajikan sebagai mahasiswa seolah terlupakan dan cenderung tidak dipikirkan lagi, semua itu terlihat dari kehidupan mahasiswa dewasa ini. Ketika hedonisme dielu-elukan, trend dan mode dituhankan dan kampus dijadikan jalannya yang terjadi hanyalah sebuah kekerdilan pemikiran para mahasiswa. Kampus sebagai pusat peradaban kaum intelektual pun kini tak lebih terlihat sebagai pusat fashion show mahasiswa dan tempat bermain mengisi waktu bersama teman-teman.
            Beberapa masalah yang berkaitan dengan moralitas mahasiswa yang sering ditemui  seiring dengan arus globalisasi:
¨  Salah pergaulan, apabila kita salah memilih pergaulan kita juga bisa ikut-ikutan untuk melakukan hal yang tidak baik.
¨  Orang tua yang kurang perhatian, apabila orang tua kurang memperhatikan anaknya, bisa-bisa anaknya merasa tidak nyaman berada di rumah dan selalu keluar rumah. Hal ini bisa menyebabkan remaja terkena pergaulan bebas.
¨  Ingin mengikuti trend, bsia saja awalmya para remaja merokok adalah ingin terlihat keren, padahal hal itu sama sekali tidak benar. Lalu kalu sudah mencoba merokok dia juga akan mencoba hal-hal yang lainnya seperti narkoba dan seks bebas.
¨  Himpitan ekonomi yang membuat para remaja stress dan butuh tempat pelarian.
¨  Kurangnya pendidikan Agama dan moral.
Faktor-faktor di atas sebagian besar dipengaruhi oleh perkembangan teknologi. Dengan berkembang pesatnya teknologi pada zaman sekarang ini, arus informasi menjadi lebih transparan. Kemampuan masyarakat yang tidak dapat menyaring informasi ini dapat mengganggu akhlak. Pesatnya perkembangan teknologi dapat membuat masyarakat melupakan tujuan utama manusia diciptakan, yaitu untuk beribadah.
C.     Upaya Membangun Moraliatas Mahasiswa di era Globalisasi
1.      Meningkatkan iman dan takwa dengan cara bersyukur, bersabar, dan beramal sholeh.
2.      Untuk meghindari salah pergaulan, harus pandai memilah dan memilih teman dekat. Karena pergaulan akan sangat berpengaruh terhadap etika, moral, dan akhlak.
3.      Peran orang tua, dosen, orang terdekat sangat penting dalam pembentukan karakter seseorang, terutama dalam mengenalkan pendidikan agama sejak dini. Perhatian dari orang tua juga sangat penting. Karena pada banyak kasus, kurangnya perhatian orang tua dapat menyebabkan dampak buruk pada sikap anak.
4.       Memperluas wawasan dan pengetahuan akan sangat berguna untuk menyaring pengaruh buru, pengaruh budaya asing yang tidak sesuai lingkungan, misalnya kebiasaan merokok. Dewasa ini, orang-orang menganggap bahwa merokok meningkatkan kepercayaan diri dalam pergaulan. Padahal jika dilihat dari sisi kesehatan, merokok dapat menyebabkan banyak penyakit, baik pada perokok aktif maupun pasif. Sehingga kebiasaan ini tidak hanya akan mempengaruhi dirinya sendiri, melainkan juga orang-orang di sekelilingnya.
5.      Adanya mata kuliah Pendidikan moral dan Pengembangan karakter salah satunya Pendidikan Kewarganegaraan yang didikuti mahasiswa untuk menanamkan pada diri masing-masing akan pentingnya pendidikan karakter untuk memperbaiki moral bangsa. Lalu pendidikan agama yang didalamnya terdapat berbagai pendekatan untuk menuju moral yang lebih baik.
6.      Memanfaatkan Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sebaik-baiknya.
7.      Memperteguh penanaman nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.





Bab III
Penutup
A.  Kesimpulan
Moralitas mahasiswa di era globalisasi sangat perlu diperhatikan karena globalisasi memiliki pengaruh yang besar terhadap mahasiswa sebagai agent of change yakni perubahan social yang berakibat pada krisis moral.  Mahasiswa sekarang lupa pada tugas dan hakikatnya. Mahasiswa yang katanya merupakan kaum intelektual mempunyai pemikiran kritis, analisa tajam, serta diharapkan untuk memperjuangkan masa depan bangsa, seakan-akan kehilangan rohnya. Peran kebajikan sebagai mahasiswa seolah terlupakan dan cenderung tidak dipikirkan lagi, semua itu terlihat dari kehidupan mahasiswa dewasa ini. Ketika hedonisme dielu-elukan, trend dan mode dituhankan dan kampus dijadikan jalannya yang terjadi hanyalah sebuah kekerdilan pemikiran para mahasiswa.
Berbagai kasus akibat krisis moralpun tak dapat dihindarkan, dari sikap hedonism, anarkisme, pergaulan bebas hingga seks bebas. Untuk itu perlu upaya membangun moralitas mahasiswa menjadi lebih baik dengan cara yang paling utama adalah adanya kesadaran pada pribadi masing-masing mahasiswa untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa selain itu juga perlunya menambah wawasan untuk menyaring budaya-budaya asing akibat globalisasi yang sesuai diterapkan di Indonesia karena globalisasi tidak dapat dihindari. Dukungan dari orang-orang terdekat yakni keluarga, dosen, teman-teman terutama orangtua dalam mengontrol anak-anaknya.







Daftar Pustaka
Sztompka, Piotr,2008. Sosiologi Perubahan Sosial, Jakarta : Prenada
Krisis Moralitas Mahasiswa diakses tanggal 29 Mei 2012 http://akhmadimam26.blogspot.com/favicon.ico
Sumarno, Alim. 2011 Strategi Pendidikan Agama dan Moral pada era Globalisasi. diakses pada tanggal 29 Mei 2012. http://Alimsumarno.blogspot.com
Adib, Mohammad. 2011 Peran Penting Mahasiswa Indonesia. diakses pada tanggal 30 Mei 2012. http://madib.blog.unair.ac.id/jatidiri-and-character
Purnomo, T. A.2010.Merosotnya Moral Mahasiswa sebagai AgenPembangunan di Era Global .diakses tanggal 30 Mei 2012. http://purnomo.blogspot.com/merosotnya-moral-
Makalah Globalisasi diakses tanggal 30 Mei 2012. http://www.scribd.com
CARApaedia, Pengertian dan definisi Moral-Definisi diakses tanggal 30 Mei 2012 .http://carapedia.com