Rabu, 26 Desember 2012

Belajar dan Pembelajaran



BELAJAR dan PEMBELAJARAN
            Banyak negara mengakui bahwa persoalan pendidikan merupakan persoalan yang pelik, namun semuanya merasakan bahwa pendidikan merupakan tugas negara yang amat penting. Di negara-negara berkembang, adopsi sistem pendidikan dari luar sering kali mengalami kesulitan untuk berkembang. Cara dan sistem pendidikan sering kali menjadi sasaran kecaman dan kritik. Karena seluruh daya guna sistem pendidikan tersebut dilakukan.
A.    TEORI DESKRIPTIF DAN TEORI PRESKIPTIF
Teori belajar adalah deskriptif karena tujuan utamanya memberikan proses belajar, sedangkan teori pembelajaran adalah prespektif karena tujuan utamanya menetapkan metode pembelajaran yang optimal.
a)      Teori Deskriptif dan Teori Perspektif
Burner (dalam Degeng, 1989) mengemukakan bahwateori pembelajaran adalah prespektif dan teori belajar adalah deskriptif. Perspektif karena tujuan utamanya adalah menetapkan metode pembelajaran yang optimal, sedangkan deskriptif karena tujuan utama belajar adalah proses belajar.
Teori belajar menaruh perhatian pada hubungan di antara variabel-variabel yang menentukan hasil belajar. Teori ini menentukan bagaimana seseorang belajar. Upaya dari Burner untuk membedakan antara teori belajar yang deskriptif dan teori belajar yang perspektif di kembangkan lebih lanjut oleh Reigeluth dan kawan-kawan, bahwa Teori-teori dan prinsip-prinsip pembelajaran yang deskriptif menempatkan variabel kondisi dan metode pembelajaran sebagai givens, dan menempatkan hasil pembelajaran sebagai variabel yang diamati.
Teori belajar perspektif di maksudkan untuk mencapai tujuan, sedangkan teori belajar deskriptif di maksudkan untuk memberikan hasil.
a.       Teori belajar deskriptif, variabel kondisi dan metode adalah variabel bebas dan parameter kedua variabel ini berinteraksi untuk menghasilkan efek pada variabel hasil pembelajaran, sebagai variabel tergantung.
b.      Teori perspektif, variabel kondisi dan hasil yang diinginkan, yang mungkin juga berinteraksi dan parameter keduanya ini digunakan untuk menetapkan metode pembelajaran yang optimal, sebagai variabel tergantung.
Hasil yang diamati dalam pengembangan teori perspektif adalah hasil pembelajaran yang diinginkan yang telah ditetapkan terlebih dahulu., sedangkan dalam pengembangan teori deskriptif yang diamati adalah hasil belajar yang nyata dalam pengertian probabilistik, hasil pembelajaran yang mungkin muncul bisa jadi bukan merupakan hasil pembelajaran yang diinginkan.
b)     Proposisi Teori Deskriptif dan Perspektif
Dalam proposisi teori teoritik yang pertama, model pengorganisasian pembelajaran (model elaborasi) di tetapkan sebagai perlakuan, di bawah kondisi karakteristik isi pelajaran, untuk memeriksakan perubahan unjuk kerja (actual outcomes), berupa peningkatan perolehan belajar dan retensi. Dalam proposisi teoritik yang kedua (teori perspektif) peningkatan perolehan belajar dan retensi di tetapkan sebagai hasil pembelajaran yang diinginkan, dan model elaborasi yang meupakan salah satu model untuk mengorganisasi isi/materi pelajaran, mempunyai peluang untuk menjadi metode yang optimal untuk mencapai pembelajaran yang diinginkan.dalam hal ini hasil dan kondisi belajar pembelajaran terlebih dahulu untuk dipilih baru kemudian memilih metode yang optimal untuk mencapai hasilpembelajaran yang diinginkan tersebut. Sebaliknya dalam teori belajar deskriptif metode pembelajaran dimanipulasi di bawah kondisi tertentu, dan baru melakukan pengamatan pada hasil pembelajaran.
c)      Teori Belajar dan Teori Pembelajaran Kaitannya Dengan Deskriptif dan Teori Prespektif
Teori belajar mengungkapkan hubungan antara kegiatan pembelajaran dengan proses-proses psikologi dalam diri si belajar, sedangkan teori belajar mengungkapkan hubungan antara kegiatan si belajar dengan proses-proses psikologis dalam diri si belajar. Teori pembelajaran harus memasukkan variabel metode pembelajaran. Bila tidak, teori itu bukan teori pembelajaran. Teori pembelajaran selalu menyebutkan metode pembelajaran, sedangkan teori belajar tidak berurusan dengan metode pembelajaran.

B.     TEORI BELAJAR BEHAVIORISTIK DAN PENERAPANNYA DALAM PEMBELAJARAN
1)      Menurut Teori behavioristik, belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai akinat dari adanya interaksi antara stimulus dan respon. Dengan kata lain belajar merupakan bentuk merupakan perubahan dialami siswa dalam hal kemampuan untuk bertingkah laku dengan cara yang baru sebagai hasil interaksi antara stimulus dan respon. Yang terpenting menurut teori ini adalah masukan atau input yang berupa stimulus dan keluaran yaitu output.
2)      Teori Belajar Menurut Thorndike
Belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon. Stimulus yaitu apa saja yang dapat merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran, perasaan, dll yang dapat di tangkap melalui alat indera. Respon, yaitu reaksi yang di munculkan peserta didik ketika belajar, yang juga dapat berupa pikiran, perasaan atau tindakan/gerakan.


C.    Aplikasi Teori Behavioristik Dalam Kegiatan Pembelajaran
Aliran psikologi belajar yang sangat besar mempengaruhi arah pengembangan teori dan praktek pendidikan dan pembelajaran hingga kini adalah aliran behavioristik.
Teori behavioristik masih di rasakan manfaatnya dalam kegiatan pembelajaran. Selain teori ini telah mampu memberikan sumbangan dan motivasi bagi lahirnya teori-teori belajar yang baru, juga karena  prinsip-prinsipnya terasa masih dapat di daplikasikan secara praktis dalam pembelajaran hingga kini.


D.    TEORI BELAJAR KOGNITIF
            Pengertian belajar menurut teori kognitif adalah perubahan persepsi dan pemahaman yang tidak selalu berbentuk tingkah laku yang dapat diamati dan dapat diukur. Asumsi teori ini adalah bahwa setiap orang telah memiliki pengetahuan dan pengalaman yang tertata dalam bentuk struktur kognitif yang dimilikinya. Proses belajar akan berjalan dengan baikjika materi pelajaran atau info baru beradaptasi dengan struktur kognitif yang telah dimiliki seseorang. Di antara pakar teori kognitif, ada 3 yang terkenal yaitu Piaget, Bruner dan Asubel. Dalam kegiatan pembelajaran, keterlibatan siswa secara aktif amat dipentingkan. Untuk menarik minat dan meningkatkan retensi belajar perlu mengkaitkan pengetahuan baru dengan struktur kognitif yang telah dimiliki siswa. Perbedaan individual pada diri siswa perlu diperhatikan. Asubel mengatakan bahwa proses belajar terjadi jika seseorang mampu menasimilasikan pengetahuan yang telah dimilikinya dengan pengetahuan baru. Proses belajar akan terjadi melalui tahap-tahap memperhatikan stimulus, memahami makna stimulus, menyimpan dan menggunakan informasi yang sudah dipahami. Dalam kegiatan pembelajaran keterlibatan siswa secara aktif amat dipentingkan. Untuk menarik minat dan meningkatkan retensi belajar perlu mengaitkan pengetahuan baru dengan struktur kognitif yang telah dimiliki siswa.

E.     TEORI BELAJAR KONSTRUKTIF DAN PENERAPANNYA DALAM PEMBELAJARAN
Usaha mengembangkan manusia dan masyarakat yang memiliki kepekaan, mandiri, bertanggungjawab, dapat mendidik dirinya sendiri sepanjang hayat, serta mampu berkolaborasi dalam memecahkan masalah. Di perlukan layanan pendidikan yang mampu melihat kaitan antara ciri-ciri manusia tersebut, dengan praktek-praktek pendidikan dan pembelajaran untuk mewujudkannya. Pandangan konstruktivistik yang mengemukakan bahwa belajar merupakan usaha pemberian makna oleh siswa kepada pengalamannya melalui asimilasi dan akomodasi yang menuju pada pembentukan struktur kognitifnya, memungkinkan mengarah kepada tujuan tersebut. Oleh karena itu pembelajaran diusahakan agar dapat memberikan kondisi terjadinya proses pembentukan tersebut secara optimal pada diri siswa.
Proses belajar sebagai suatu usaha pemberian makna oleh siswa kepada pengalamannya melalui proses asimilasi dan akomodasi, akan membentuk suatu konstruksi pengetahuan yang menuju pada kemutakhiran struktur kognitifnya. Guru-guru konstruktivistik yang  mengakui dan menghargai dorongan diri manusia/siswa untuk mengonstruksikan pengetahuannya sendiri, kegiatan pembelajaran yang dilakukannya akan diarahkan agar terjadi aktivitas konstruksi pengetahuan oleh siswa secara optimal.
Karakteristik pembelajaran yang dilakukannya adalah:
a.       Membebaskan siswa dari belenggu kurikulum yang berisi fakta-fakta lepas yang sudah ditetapkan dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan ide-idenya secara lebih luas.
b.      Menempatkan siswa sebagai kekuatan timbulnya interes, untuk membuat hubungan di antara ide-ide atau gagasan kemudian memformulasikan kembali ide-ide tersebut, serta membuat kesimpulan-kesimpulan.
c.        Guru-guru bersama-sama siswa mengkaji pesan-pesan penting bahwa dunia adalah kompleks, di mana terdapat bermacam-macam pandangan tentang kebenaran yang datangnya dari berbagai interpretasi.
d.      Guru mengakui bahwa proses belajar serta penilainnya merupakan suatu usaha yang kompleks, sukar di pahami tidak teratur, dan tidak mudah dikelola.


F.     APLIKASI TEORI BELAJAR HUMANISTIK DALAM KEGIATAN PEMBELAJARAN
Teori humanistik sering di kritik karena sukar diterapkan dalam konteks yang lebih praktis. Teori  ini di anggap lebih dekat dengan bidang filsafat, teori kepribadian dan psikoterapi dari pada bidang pendidikan, sehingga sukar menerjemahkannya ke dalam yang lebih konkret dan praktis.
Namun karena sifatnya yang ideal, yaitu memanusiakan manusia maka teori humanistik mampu memberikan arah terhadap semua komponen pembelajaran untuk mendukung tercapainya tujuan tersebut.
Semua komponen pendidikan termasuk tujuan pendidikan diarahkan pada terbentuknya manusia yang ideal. Manusia yang dicita-citakan, yaitu manusia yang mampu mencapai aktuilasi diri. Untuk itu perlu di perhatikan bagaimana perkembangan peserta didik dalam mengaktulisasikan dirinya, pemahaman terhadap dirinya, serta realisasi diri. Pengalaman emosional dan karakteristik khusus individu dalam belajar perlu diperhatikan oleh guru dalam merencanakan pembelajaran.
Karena seseorang akan belajar dengan baik jika mempunya pengertian tentang dirinya sendiri dan dapat membuat pilihan-pilihan secara bebas kearah mana ia akan berkembang. Dengan demikian, teori humanistik mampu menjelaskan bagaimana tujuan yang ideal tersebut dapat tercapai.
Teori humanistik akan sangat membantu para pendidik dalam upaya memahami arah belajar pada dimensi yang lebih luas. Sehingga upaya pembeljaran apapun dan manapun akan selalu diarahkan dan dilakukan untk mencapai tujuannya.
Kegiatan pembelajran yang dirancang serta sistematis, tahap demi tahap secara ketat, sebagaimana tujuan-tujuan pembelajaran yang telah dinyatakan secara eksplisit dan diukur, kondisi belajar yang diatur dan ditentukan , serta pengalaman-pengalaman belajar yang dipilih untuk siswa, mungkin saja berguna bagi guru tetapi tidak berarti bagi siswa (Rogers dalam Snelbecker, 1974).
Dalam prakteknya ini, teori humanistik lebih cenderung mengarahkan siswa untuk berpikir induktif, mementingkan pengalaman, serta membutuhkan keterlibatan siswa secara aktif dalam proses belajar.
Beberapa tokoh pengantu teori humanistik, yaitu:
·         Kolb; konsepnya tentang 4 tahap dalam belajar yaitu pengalaman konkret, pengalaman aktif dan reflektif, konseptualisasi, dan eksperimentasi aktif.
·         Honey dan Mumford; menggolongkan siswa menjadi 4, yaitu aktifis, reflektor, teoris, dan pragmantis.
·         Hubermas; membedakan 3 macam atau tipe belajar, yaitu belajar teknis, belajar praktis, dan belajar emansipatoris.

G.    TEORI BELAJAR SIBERNETIK DAN PENERAPANNYA DALAM PEMBELAJARAN
Teori belajar sibernetik merupakan teori belajar yang relatif baru dibandingkan teori-teori belajar lainnya. Teori ini berkembang sejalan dengan perkembangan teknologi dan informasi. Menurut teori sibernetik, belajar adalah pemrosesan informasi. Teori ini lebih mementingkan sistem informasi dari pesan atau materi yang dipelajari. Bagaimana proses belajar akan berlangsung sangat ditentukan oleh sistem informasi dari pesan tersebut. Oleh sebab itu, teori sibernetik berasumsi bahwa tidak ada satu jenispun cara belajar yang ideal untuk segala situasi. Sebab cara belajar sangat ditentukan oleh sistem informasi dari sistem tersebut.
Teori ini dikembangkan oleh para penganutnya antara lain seperti pendekatan-pendekatan yang berorientasi pada pemrosesan informasi yang dikembangkan oleh Gage dan Berliner., Biehlier dan Snowman, Baine, serta Tennyson.
Pask dan Scott membagi siswa menjadi tipe menyeluruh atau Wholist dan tipe serial atau serialist. Mereka mengatakan bahwa siswa yang bertipe wholist cenderung mempelajari sesuatu dari yang paling umum menuju ke hal-hal yang lebih khusus, sedangkan siswa dengan tipe serialist dalam berpikir atau menggunakan cara setahap demi setahap atau linear.
Aplikasi teori pengolahan informasi dalam pembelajaran antara lain dirumuskan dalam teori Gagne dan Briggs yang mendeskripsikan adanya; kapabilitas belajar, peristiwa pembelajaran, dan pengorganisasian atau urutan belajar.
Keunggulan strategi pembelajaran yang berpihak pada teori pemrosesan informasi, yaitu:
a.       Cara berpikir yang berorientasi pada proses lebih menonjol.
b.      Penyajian pengetahuan memenuhi aspek ekonomis.
c.       Kapabilitas belajar dapat disajikan lebih lengkap
d.      Adanya transfer belajar pada lingkungan kehidupan yang sesungguhnya.
e.       Menyajikan materi dan membimbing siswa belajar dengan pola yang sesuai dengan urutan materi pelajaran
f.       Menyusun materi pelajaran  dalam urutan yang sesuai dengan sistem informasinya.

H.    TEORI BELAJAR REVOLUSI-SOSIOKULTURAL DAN PENERAPANNYA DALAM PEMBELAJARAN
Pemikiran tentang pendidikan keterampilan sudah lama ditemukan. Keterampilan bukan hanya sekedar keterampilan bekerja apalagi keterampilan untuk keterampilan  itu sendiri. Keterampilan dalam makna yang luas diartikan sebagai keterampilan demi kehidupan dan penghidupan yang bermartabat dan sejahtera lahir batin. Keerampilan hidup inilah yang dalam praktek kependidikan perlu dimaknai dan dalam praktek pembelajaran dikelas.
Upaya melakukan intensifikasi dan eksistensifikasi pendidikan keterampilan sangatlah diperlukan, karena banyaknya lulusan sekolah umum yang tidak dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, serta daya serap ekonomi  yang terbatas juga memerlukan tenaga terampil dan bermutu. Keterampilan-keterampilan yang bersifat kejuruan, intelektual, sosial dan managerial, serta keterampilan-keterampilan yang berhubungan dengan tuntutan pasar yang bervariasi sesuai dengan perubahan-perubahan yang terjadi dalam masyarakat, perlu dilatihkan pada anak.
Kecerdasan ganda yang dikemukakan oleh Gardner yang kemudian dikembangkan oleh para tokoh lain, terdiri dari kecerdasan verbal/bahasa, kecerdasan logika/matematik, keceradasan visual/ruang, kecerdasan tubuh/gerak tubuh, kecerdasan musikal/ritmik, kecerdasan interperosnal, kecerdasan intrapersonal, kecerdasan naturalis, kecerdasan spiritual dan kecerdasan eksistensial, perlu dilatihkan dalam rangka mengembangkan keterampilan hidup. Semua kecerdasan ini sebagai satu kesatuan yang utuh dan terpadu. Komposisi keterpaduannya berbeda-beda pada masing-masing orang dan pada masing-masing budaya. Namun secara keseluruhan semua kecerdasan tersebut dapat diubah dan ditingkatkan. Kecerdasan yang paling menonjol akan mengontrol kecerdasan-kecerdasan lainya dalam memecahkan masalah. Para pakar kecerdasan sebelum Gardner cenderung memberikan tekanan terhadap kecerdasan hanya terbatas pada aspek kognitif. Sehingga manusia telah teredukasi menjadi sekedar komponen kognitif. Gardner melakukan hal yang berbeda ia memandang manusia tidak hanya sekedar komponen kognitif, namun suatu keseluruhan.
Melalui teori kecerdasan ganda, ia berusaha menghindari adanya penghakiman terhadap manusia dari sudut pandang kecerdasan. Tidak ada manusia yang sangat cerdas dan tidak cerdas untuk seluruh aspek yang ada pada dirinya. Yang ada adalah apa yang dimilikinya. Mungkin seseorang telah memiliki kecerdasan tinggi untuk kecerdasan logika–matematika tetapi tidak untuk  kecerdasan musik kecerdasan body-kinetik.
Strategi kecerdasan pembelajaran kecerdasan ganda agar semua potensia anak dapat berkembang. Strateg dasar permbelajaran dimulai dengan:
a.       Menggunakan atau memicu kecerdasan
b.      Memperkuat kecerdasan
c.       Mengajarkan dengan/atau untuk kecerdasan
d.      Dan mentransfer kecerdasan.
Sedangkan kegiatannya dapat dilakukan dengan cara menyediakan hari-hari karir, study tour, biografi, pembelajaran terprogram, eksperimen, majalah dinding, papan display, membaca buku untuk mengembangkan kecerdasan ganda, membuat  tabelperkembangan kecerdasan ganda. Upaya memeberdayakan siswa sendiri berupa self-morning dan konseling atau tutor sebaya akan sangat efektif untuk mengembangkan kecerdasan ganda. Dari sudut pandang teori humanistik, dasar-dasar teori kecerdasan ganda memang sangat humanis. Psikologi humanistik selalu memberi tekanan pada positive regards, acceptance, awarenees, self-worth, yang semuanya itu itu bermuara pada aktualisasi diri yang optimal.

0 komentar:

:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i: :j: :k: :l: :m: :n:

Posting Komentar