BELAJAR dan PEMBELAJARAN
Banyak negara mengakui bahwa
persoalan pendidikan merupakan persoalan yang pelik, namun semuanya merasakan
bahwa pendidikan merupakan tugas negara yang amat penting. Di negara-negara
berkembang, adopsi sistem pendidikan dari luar sering kali mengalami kesulitan
untuk berkembang. Cara dan sistem pendidikan sering kali menjadi sasaran
kecaman dan kritik. Karena seluruh daya guna sistem pendidikan tersebut
dilakukan.
A.
TEORI
DESKRIPTIF DAN TEORI PRESKIPTIF
Teori
belajar adalah deskriptif karena tujuan utamanya memberikan proses belajar,
sedangkan teori pembelajaran adalah prespektif karena tujuan utamanya
menetapkan metode pembelajaran yang optimal.
a)
Teori
Deskriptif dan Teori Perspektif
Burner (dalam Degeng,
1989) mengemukakan bahwateori pembelajaran adalah prespektif dan teori belajar
adalah deskriptif. Perspektif karena tujuan utamanya adalah menetapkan metode
pembelajaran yang optimal, sedangkan deskriptif karena tujuan utama belajar
adalah proses belajar.
Teori belajar menaruh
perhatian pada hubungan di antara variabel-variabel yang menentukan hasil
belajar. Teori ini menentukan bagaimana seseorang belajar. Upaya dari Burner
untuk membedakan antara teori belajar yang deskriptif dan teori belajar yang
perspektif di kembangkan lebih lanjut oleh Reigeluth dan kawan-kawan, bahwa
Teori-teori dan prinsip-prinsip pembelajaran yang deskriptif menempatkan
variabel kondisi dan metode pembelajaran sebagai givens, dan menempatkan hasil
pembelajaran sebagai variabel yang diamati.
Teori belajar
perspektif di maksudkan untuk mencapai tujuan, sedangkan teori belajar
deskriptif di maksudkan untuk memberikan hasil.
a. Teori
belajar deskriptif, variabel kondisi dan metode adalah variabel bebas dan
parameter kedua variabel ini berinteraksi untuk menghasilkan efek pada variabel
hasil pembelajaran, sebagai variabel tergantung.
b. Teori
perspektif, variabel kondisi dan hasil yang diinginkan, yang mungkin juga
berinteraksi dan parameter keduanya ini digunakan untuk menetapkan metode
pembelajaran yang optimal, sebagai variabel tergantung.
Hasil
yang diamati dalam pengembangan teori perspektif adalah hasil pembelajaran yang
diinginkan yang telah ditetapkan terlebih dahulu., sedangkan dalam pengembangan
teori deskriptif yang diamati adalah hasil belajar yang nyata dalam pengertian
probabilistik, hasil pembelajaran yang mungkin muncul bisa jadi bukan merupakan
hasil pembelajaran yang diinginkan.
b)
Proposisi
Teori Deskriptif dan Perspektif
Dalam proposisi teori
teoritik yang pertama, model pengorganisasian pembelajaran (model elaborasi) di
tetapkan sebagai perlakuan, di bawah kondisi karakteristik isi pelajaran, untuk
memeriksakan perubahan unjuk kerja (actual outcomes), berupa peningkatan
perolehan belajar dan retensi. Dalam proposisi teoritik yang kedua (teori
perspektif) peningkatan perolehan belajar dan retensi di tetapkan sebagai hasil
pembelajaran yang diinginkan, dan model elaborasi yang meupakan salah satu
model untuk mengorganisasi isi/materi pelajaran, mempunyai peluang untuk
menjadi metode yang optimal untuk mencapai pembelajaran yang diinginkan.dalam
hal ini hasil dan kondisi belajar pembelajaran terlebih dahulu untuk dipilih
baru kemudian memilih metode yang optimal untuk mencapai hasilpembelajaran yang
diinginkan tersebut. Sebaliknya dalam teori belajar deskriptif metode
pembelajaran dimanipulasi di bawah kondisi tertentu, dan baru melakukan
pengamatan pada hasil pembelajaran.
c)
Teori
Belajar dan Teori Pembelajaran Kaitannya Dengan Deskriptif dan Teori Prespektif
Teori belajar
mengungkapkan hubungan antara kegiatan pembelajaran dengan proses-proses
psikologi dalam diri si belajar, sedangkan teori belajar mengungkapkan hubungan
antara kegiatan si belajar dengan proses-proses psikologis dalam diri si
belajar. Teori pembelajaran harus memasukkan variabel metode pembelajaran. Bila
tidak, teori itu bukan teori pembelajaran. Teori pembelajaran selalu
menyebutkan metode pembelajaran, sedangkan teori belajar tidak berurusan dengan
metode pembelajaran.
B. TEORI BELAJAR BEHAVIORISTIK DAN
PENERAPANNYA DALAM PEMBELAJARAN
1) Menurut
Teori behavioristik, belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai akinat dari
adanya interaksi antara stimulus dan respon. Dengan kata lain belajar merupakan
bentuk merupakan perubahan dialami siswa dalam hal kemampuan untuk bertingkah
laku dengan cara yang baru sebagai hasil interaksi antara stimulus dan respon.
Yang terpenting menurut teori ini adalah masukan atau input yang berupa
stimulus dan keluaran yaitu output.
2) Teori
Belajar Menurut Thorndike
Belajar adalah proses
interaksi antara stimulus dan respon. Stimulus yaitu apa saja yang dapat
merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran, perasaan, dll yang
dapat di tangkap melalui alat indera. Respon, yaitu reaksi yang di munculkan
peserta didik ketika belajar, yang juga dapat berupa pikiran, perasaan atau
tindakan/gerakan.
C.
Aplikasi
Teori Behavioristik Dalam Kegiatan Pembelajaran
Aliran
psikologi belajar yang sangat besar mempengaruhi arah pengembangan teori dan
praktek pendidikan dan pembelajaran hingga kini adalah aliran behavioristik.
Teori
behavioristik masih di rasakan manfaatnya dalam kegiatan pembelajaran. Selain
teori ini telah mampu memberikan sumbangan dan motivasi bagi lahirnya
teori-teori belajar yang baru, juga karena
prinsip-prinsipnya terasa masih dapat di daplikasikan secara praktis
dalam pembelajaran hingga kini.
D.
TEORI
BELAJAR KOGNITIF
Pengertian belajar menurut teori
kognitif adalah perubahan persepsi dan pemahaman yang tidak selalu berbentuk
tingkah laku yang dapat diamati dan dapat diukur. Asumsi teori ini adalah bahwa
setiap orang telah memiliki pengetahuan dan pengalaman yang tertata dalam
bentuk struktur kognitif yang dimilikinya. Proses belajar akan berjalan dengan
baikjika materi pelajaran atau info baru beradaptasi dengan struktur kognitif
yang telah dimiliki seseorang. Di antara pakar teori kognitif, ada 3 yang
terkenal yaitu Piaget, Bruner dan Asubel. Dalam kegiatan pembelajaran,
keterlibatan siswa secara aktif amat dipentingkan. Untuk menarik minat dan
meningkatkan retensi belajar perlu mengkaitkan pengetahuan baru dengan struktur
kognitif yang telah dimiliki siswa. Perbedaan individual pada diri siswa perlu
diperhatikan. Asubel mengatakan bahwa proses belajar terjadi jika seseorang
mampu menasimilasikan pengetahuan yang telah dimilikinya dengan pengetahuan
baru. Proses belajar akan terjadi melalui tahap-tahap memperhatikan stimulus,
memahami makna stimulus, menyimpan dan menggunakan informasi yang sudah
dipahami. Dalam kegiatan pembelajaran keterlibatan siswa secara aktif amat
dipentingkan. Untuk menarik minat dan meningkatkan retensi belajar perlu
mengaitkan pengetahuan baru dengan struktur kognitif yang telah dimiliki siswa.
E.
TEORI
BELAJAR KONSTRUKTIF DAN PENERAPANNYA DALAM PEMBELAJARAN
Usaha
mengembangkan manusia dan masyarakat yang memiliki kepekaan, mandiri,
bertanggungjawab, dapat mendidik dirinya sendiri sepanjang hayat, serta mampu
berkolaborasi dalam memecahkan masalah. Di perlukan layanan pendidikan yang
mampu melihat kaitan antara ciri-ciri manusia tersebut, dengan praktek-praktek
pendidikan dan pembelajaran untuk mewujudkannya. Pandangan konstruktivistik
yang mengemukakan bahwa belajar merupakan usaha pemberian makna oleh siswa
kepada pengalamannya melalui asimilasi dan akomodasi yang menuju pada
pembentukan struktur kognitifnya, memungkinkan mengarah kepada tujuan tersebut.
Oleh karena itu pembelajaran diusahakan agar dapat memberikan kondisi
terjadinya proses pembentukan tersebut secara optimal pada diri siswa.
Proses
belajar sebagai suatu usaha pemberian makna oleh siswa kepada pengalamannya
melalui proses asimilasi dan akomodasi, akan membentuk suatu konstruksi
pengetahuan yang menuju pada kemutakhiran struktur kognitifnya. Guru-guru
konstruktivistik yang mengakui dan
menghargai dorongan diri manusia/siswa untuk mengonstruksikan pengetahuannya
sendiri, kegiatan pembelajaran yang dilakukannya akan diarahkan agar terjadi
aktivitas konstruksi pengetahuan oleh siswa secara optimal.
Karakteristik
pembelajaran yang dilakukannya adalah:
a. Membebaskan
siswa dari belenggu kurikulum yang berisi fakta-fakta lepas yang sudah
ditetapkan dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan
ide-idenya secara lebih luas.
b. Menempatkan
siswa sebagai kekuatan timbulnya interes, untuk membuat hubungan di antara
ide-ide atau gagasan kemudian memformulasikan kembali ide-ide tersebut, serta
membuat kesimpulan-kesimpulan.
c. Guru-guru bersama-sama siswa mengkaji
pesan-pesan penting bahwa dunia adalah kompleks, di mana terdapat
bermacam-macam pandangan tentang kebenaran yang datangnya dari berbagai
interpretasi.
d. Guru
mengakui bahwa proses belajar serta penilainnya merupakan suatu usaha yang
kompleks, sukar di pahami tidak teratur, dan tidak mudah dikelola.
F.
APLIKASI
TEORI BELAJAR HUMANISTIK DALAM KEGIATAN PEMBELAJARAN
Teori
humanistik sering di kritik karena sukar diterapkan dalam konteks yang lebih
praktis. Teori ini di anggap lebih dekat
dengan bidang filsafat, teori kepribadian dan psikoterapi dari pada bidang
pendidikan, sehingga sukar menerjemahkannya ke dalam yang lebih konkret dan
praktis.
Namun
karena sifatnya yang ideal, yaitu memanusiakan manusia maka teori humanistik
mampu memberikan arah terhadap semua komponen pembelajaran untuk mendukung
tercapainya tujuan tersebut.
Semua
komponen pendidikan termasuk tujuan pendidikan diarahkan pada terbentuknya
manusia yang ideal. Manusia yang dicita-citakan, yaitu manusia yang mampu
mencapai aktuilasi diri. Untuk itu perlu di perhatikan bagaimana perkembangan
peserta didik dalam mengaktulisasikan dirinya, pemahaman terhadap dirinya,
serta realisasi diri. Pengalaman emosional dan karakteristik khusus individu
dalam belajar perlu diperhatikan oleh guru dalam merencanakan pembelajaran.
Karena
seseorang akan belajar dengan baik jika mempunya pengertian tentang dirinya
sendiri dan dapat membuat pilihan-pilihan secara bebas kearah mana ia akan
berkembang. Dengan demikian, teori humanistik mampu menjelaskan bagaimana
tujuan yang ideal tersebut dapat tercapai.
Teori
humanistik akan sangat membantu para pendidik dalam upaya memahami arah belajar
pada dimensi yang lebih luas. Sehingga upaya pembeljaran apapun dan manapun
akan selalu diarahkan dan dilakukan untk mencapai tujuannya.
Kegiatan
pembelajran yang dirancang serta sistematis, tahap demi tahap secara ketat,
sebagaimana tujuan-tujuan pembelajaran yang telah dinyatakan secara eksplisit
dan diukur, kondisi belajar yang diatur dan ditentukan , serta
pengalaman-pengalaman belajar yang dipilih untuk siswa, mungkin saja berguna
bagi guru tetapi tidak berarti bagi siswa (Rogers dalam Snelbecker, 1974).
Dalam
prakteknya ini, teori humanistik lebih cenderung mengarahkan siswa untuk
berpikir induktif, mementingkan pengalaman, serta membutuhkan keterlibatan
siswa secara aktif dalam proses belajar.
Beberapa
tokoh pengantu teori humanistik, yaitu:
·
Kolb; konsepnya tentang 4 tahap dalam
belajar yaitu pengalaman konkret, pengalaman aktif dan reflektif,
konseptualisasi, dan eksperimentasi aktif.
·
Honey dan Mumford; menggolongkan siswa
menjadi 4, yaitu aktifis, reflektor, teoris, dan pragmantis.
·
Hubermas; membedakan 3 macam atau tipe
belajar, yaitu belajar teknis, belajar praktis, dan belajar emansipatoris.
G.
TEORI
BELAJAR SIBERNETIK DAN PENERAPANNYA DALAM PEMBELAJARAN
Teori
belajar sibernetik merupakan teori belajar yang relatif baru dibandingkan
teori-teori belajar lainnya. Teori ini berkembang sejalan dengan perkembangan
teknologi dan informasi. Menurut teori sibernetik, belajar adalah pemrosesan
informasi. Teori ini lebih mementingkan sistem informasi dari pesan atau materi
yang dipelajari. Bagaimana proses belajar akan berlangsung sangat ditentukan
oleh sistem informasi dari pesan tersebut. Oleh sebab itu, teori sibernetik
berasumsi bahwa tidak ada satu jenispun cara belajar yang ideal untuk segala
situasi. Sebab cara belajar sangat ditentukan oleh sistem informasi dari sistem
tersebut.
Teori
ini dikembangkan oleh para penganutnya antara lain seperti
pendekatan-pendekatan yang berorientasi pada pemrosesan informasi yang
dikembangkan oleh Gage dan Berliner., Biehlier dan Snowman, Baine, serta
Tennyson.
Pask
dan Scott membagi siswa menjadi tipe menyeluruh atau Wholist dan tipe serial
atau serialist. Mereka mengatakan bahwa siswa yang bertipe wholist cenderung
mempelajari sesuatu dari yang paling umum menuju ke hal-hal yang lebih khusus,
sedangkan siswa dengan tipe serialist dalam berpikir atau menggunakan cara
setahap demi setahap atau linear.
Aplikasi
teori pengolahan informasi dalam pembelajaran antara lain dirumuskan dalam
teori Gagne dan Briggs yang mendeskripsikan adanya; kapabilitas belajar,
peristiwa pembelajaran, dan pengorganisasian atau urutan belajar.
Keunggulan
strategi pembelajaran yang berpihak pada teori pemrosesan informasi, yaitu:
a. Cara
berpikir yang berorientasi pada proses lebih menonjol.
b. Penyajian
pengetahuan memenuhi aspek ekonomis.
c. Kapabilitas
belajar dapat disajikan lebih lengkap
d. Adanya
transfer belajar pada lingkungan kehidupan yang sesungguhnya.
e. Menyajikan
materi dan membimbing siswa belajar dengan pola yang sesuai dengan urutan
materi pelajaran
f. Menyusun
materi pelajaran dalam urutan yang
sesuai dengan sistem informasinya.
H.
TEORI
BELAJAR REVOLUSI-SOSIOKULTURAL DAN PENERAPANNYA DALAM PEMBELAJARAN
Pemikiran
tentang pendidikan keterampilan sudah lama ditemukan. Keterampilan bukan hanya
sekedar keterampilan bekerja apalagi keterampilan untuk keterampilan itu sendiri. Keterampilan dalam makna yang
luas diartikan sebagai keterampilan demi kehidupan dan penghidupan yang
bermartabat dan sejahtera lahir batin. Keerampilan hidup inilah yang dalam
praktek kependidikan perlu dimaknai dan dalam praktek pembelajaran dikelas.
Upaya
melakukan intensifikasi dan eksistensifikasi pendidikan keterampilan sangatlah
diperlukan, karena banyaknya lulusan sekolah umum yang tidak dapat melanjutkan
ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, serta daya serap ekonomi yang terbatas juga memerlukan tenaga terampil
dan bermutu. Keterampilan-keterampilan yang bersifat kejuruan, intelektual,
sosial dan managerial, serta keterampilan-keterampilan yang berhubungan dengan
tuntutan pasar yang bervariasi sesuai dengan perubahan-perubahan yang terjadi
dalam masyarakat, perlu dilatihkan pada anak.
Kecerdasan
ganda yang dikemukakan oleh Gardner yang kemudian dikembangkan oleh para tokoh
lain, terdiri dari kecerdasan verbal/bahasa, kecerdasan logika/matematik,
keceradasan visual/ruang, kecerdasan tubuh/gerak tubuh, kecerdasan
musikal/ritmik, kecerdasan interperosnal, kecerdasan intrapersonal, kecerdasan
naturalis, kecerdasan spiritual dan kecerdasan eksistensial, perlu dilatihkan
dalam rangka mengembangkan keterampilan hidup. Semua kecerdasan ini sebagai
satu kesatuan yang utuh dan terpadu. Komposisi keterpaduannya berbeda-beda pada
masing-masing orang dan pada masing-masing budaya. Namun secara keseluruhan
semua kecerdasan tersebut dapat diubah dan ditingkatkan. Kecerdasan yang paling
menonjol akan mengontrol kecerdasan-kecerdasan lainya dalam memecahkan masalah.
Para pakar kecerdasan sebelum Gardner cenderung memberikan tekanan terhadap
kecerdasan hanya terbatas pada aspek kognitif. Sehingga manusia telah
teredukasi menjadi sekedar komponen kognitif. Gardner melakukan hal yang
berbeda ia memandang manusia tidak hanya sekedar komponen kognitif, namun suatu
keseluruhan.
Melalui
teori kecerdasan ganda, ia berusaha menghindari adanya penghakiman terhadap
manusia dari sudut pandang kecerdasan. Tidak ada manusia yang sangat cerdas dan
tidak cerdas untuk seluruh aspek yang ada pada dirinya. Yang ada adalah apa
yang dimilikinya. Mungkin seseorang telah memiliki kecerdasan tinggi untuk
kecerdasan logika–matematika tetapi tidak untuk
kecerdasan musik kecerdasan body-kinetik.
Strategi
kecerdasan pembelajaran kecerdasan ganda agar semua potensia anak dapat
berkembang. Strateg dasar permbelajaran dimulai dengan:
a. Menggunakan
atau memicu kecerdasan
b. Memperkuat
kecerdasan
c. Mengajarkan
dengan/atau untuk kecerdasan
d. Dan
mentransfer kecerdasan.
Sedangkan
kegiatannya dapat dilakukan dengan cara menyediakan hari-hari karir, study
tour, biografi, pembelajaran terprogram, eksperimen, majalah dinding, papan
display, membaca buku untuk mengembangkan kecerdasan ganda, membuat tabelperkembangan kecerdasan ganda. Upaya
memeberdayakan siswa sendiri berupa self-morning dan konseling atau tutor
sebaya akan sangat efektif untuk mengembangkan kecerdasan ganda. Dari sudut
pandang teori humanistik, dasar-dasar teori kecerdasan ganda memang sangat
humanis. Psikologi humanistik selalu memberi tekanan pada positive regards,
acceptance, awarenees, self-worth, yang semuanya itu itu bermuara pada
aktualisasi diri yang optimal.
