A. Pengertian Moralitas, Mahasiswa dan Globalisasi
a.1. Pengertian Moralitas
Menurut Sonny Keraf :
“Moral menjadi tolak ukur yang dipakai masyarakat
untuk menentukan baik buruknya tindakan manusia sebagai manusia, mungkin
sebagai anggota masyarakat atau sebagai orang dengan jabatan tertentu atau
profesi tertentu.”
Moral yang dimaksud dalam makalah ini adalah sesuatu
yang berhubungan atau berkaitan dengan menentukan baik buruknya dalam bertindak
mahasiswa dalam menentukan perilakunya.
Sedangkan
moralitas menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia :
“Moralitas
adalah sopan santun, segala sesuatu yg berhubungan dengan
etika atau adat sopan santun.”
a.2. Pengertian Mahasiswa
Kata mahasiswa
sendiri terdiri dari kata maha dan siswa, maha berarti sangat, tinggi sedangkan
siswa berarti murid, pelajar.
Menurut PP RI No
30 tahun 1990:
“Mahasiswa adalah
peserta didik yang terdaftar dan belajar di perguruan tinggi tertentu.
Mahasiswa merupakan suatu kelompok dalam masyarakat yang memperoleh statusnya
karena ikatan dalam perguruan tinggi.”
Sedangkan
menurut kamus besar bahasa indonesia:
“Mahasiswa adalah orang yang belajar
diperguruan tinggi.”
a.3. Pengertian Globalisasi
Kata “globalisasi” diambil dari kata global, yang
maknanya universal. Globalisasi diartikan sebagai proses
yang menghasilkan dunia tunggal ( Robertson, 1992 : 396). Masyarakat diseluruh dunia menjadi saling tergantung
di semua aspek kehidupan.
Menurut Malcom Waters :
“Globalisasi adalah sebuah proses social yang berakibat bahwa pembatasan
geografis pada keadaan social budaya menjadi kurang penting, yang terjelma
didalam kesadaran orang.”
B. Studi
Kasus Moralitas
Mahasiswa sebagai dampak globalisasi
Berikut merupakan contoh-contoh kasus dan permasalahan moralitas mahasiswa
sebagai dampak globalisasi :
1.
Malam
menjelang ujian esok hari, seorang mahasiswa malas belajar dan memilih untuk
bermain game dan browsing menggunakan internet semalaman. Hingga keesokan
harinya mahasiswa ini bangun kesiangan. Meskipun terlambat, dia tetap
diperbolehkan mengikuti ujian. Dengan Hand
Phone miliknya dia menanyakan jawaban kepada teman lain melalui sms,
sesekali mahasiswa ini mencari jawaban melalui internet.
Kasus tersebut memberikan kemudahan pada mahasiswa akan tetapi memberikan
dampak negative yakni ketidakadanya rasa kejujuran pada mahasiswa. Mahasiswa
seakan lupa dengan tanggungjawabnya sebagai seorang mahasiswa.
2. Seorang
mahasiswi metropolitan yang sangat tertarik dengan fashion up to date.
Setiap hal yang berhubungan dengan fashion selalu dihampirinya. Belanja untuk
kepuasan pribadi mengahmbur-hamburkan uang membeli barang yang kurang bahkan
tidak penting.
Dengan
cepatnya perkembangan teknologi yang merupakan bagian dari arus Globalisasi
sangat mudah untuk diakses saat ini, sehingga dengan gaya hidup seperti itulah mahasiswi tersebut mulai berperilaku
menyimpang. Contohnya seperti memakai pakaian yang tidak menutup aurat. Hal ini
sangat bertentangan dengan budaya timur yang dikenal sangat menjunjung tinggi
etika dan moral.
3.
Mahasiswa/i
merasa tertekan oleh pelajaran di kampus, masalah keluarga bisa ekonomi, broken home,
dan lain-lain. Mereka
melampiaskan kekesalan dengan mencari teman baru. Tanpa berpikir panjang teman
yang mereka pilih ternyata Bandar narkoba. Dengan mudahnya mahasiswa
dipengaruhi untuk mengonsumsi barang haram tersebut.
4.
Sebuah kasus yang menunjukan begitu
rentannya pelajar dan mahasiswa mengalami kerusakan moral adalah di Yogyakarta
yang dikenal sebagai kota pelajar. Sebuah penelitian menyebutkan bahwa sekitar
80% mahasiswi di sana telah kehilangan keperawanan. (Tapurnomo.blogspot.com/2010/03/mero)
Karakter hedonisme yang
mengakibatkan mahasiswa/i kehilangan arah dalam mencapai cita-cita pendidikan.
Mereka terjerumus kedalam pergaulan bebas yang pada akhirnya membawa mereka ke
minum-minuman keras, narkoba hingga seks bebas. Hilangnya kendali dalam diri
mereka karena pola pikir dan main set yang telah terkontaminasi oleh desakan
abstrak.
Ironis,
mahasiswa sekarang sudah lupa pada tugas dan hakikatnya, ibarat sebuah
peribahasa yaitu “bagai macan yang kehilangan taringnya”. Mahasiswa yang
katanya merupakan kaum intelektual mempunyai pemikiran kritis, analisa tajam,
serta diharapkan untuk memperjuangkan masa depan bangsa, seakan-akan kehilangan
rohnya. Peran kebajikan sebagai mahasiswa seolah terlupakan dan cenderung tidak
dipikirkan lagi, semua itu terlihat dari kehidupan mahasiswa dewasa ini. Ketika
hedonisme dielu-elukan, trend dan mode dituhankan dan kampus dijadikan jalannya
yang terjadi hanyalah sebuah kekerdilan pemikiran para mahasiswa. Kampus
sebagai pusat peradaban kaum intelektual pun kini tak lebih terlihat sebagai
pusat fashion show mahasiswa dan tempat bermain mengisi waktu bersama
teman-teman.
Beberapa masalah yang
berkaitan dengan moralitas mahasiswa yang sering ditemui seiring dengan arus globalisasi:
¨ Salah pergaulan, apabila
kita salah memilih pergaulan kita juga bisa ikut-ikutan untuk melakukan hal
yang tidak baik.
¨ Orang tua yang kurang
perhatian, apabila orang tua kurang memperhatikan anaknya, bisa-bisa anaknya
merasa tidak nyaman berada di rumah dan selalu keluar rumah. Hal ini bisa
menyebabkan remaja terkena pergaulan bebas.
¨ Ingin mengikuti trend,
bsia saja awalmya para remaja merokok adalah ingin terlihat keren, padahal hal
itu sama sekali tidak benar. Lalu kalu sudah mencoba merokok dia juga akan
mencoba hal-hal yang lainnya seperti narkoba dan seks bebas.
¨ Himpitan ekonomi yang
membuat para remaja stress dan butuh tempat pelarian.
¨ Kurangnya pendidikan
Agama dan moral.
Faktor-faktor di atas sebagian
besar dipengaruhi oleh perkembangan teknologi. Dengan berkembang pesatnya
teknologi pada zaman sekarang ini, arus informasi menjadi lebih transparan.
Kemampuan masyarakat yang tidak dapat menyaring informasi ini dapat mengganggu
akhlak. Pesatnya perkembangan teknologi dapat membuat masyarakat melupakan
tujuan utama manusia diciptakan, yaitu untuk beribadah.
C. Upaya Membangun Moraliatas Mahasiswa
di era Globalisasi
1. Meningkatkan
iman dan takwa dengan cara bersyukur, bersabar, dan beramal sholeh.
2. Untuk
meghindari salah pergaulan, harus pandai memilah dan memilih teman dekat.
Karena pergaulan akan sangat berpengaruh terhadap etika, moral, dan akhlak.
3. Peran
orang tua, dosen, orang
terdekat sangat penting dalam pembentukan karakter seseorang, terutama
dalam mengenalkan pendidikan agama sejak dini. Perhatian dari orang tua juga
sangat penting. Karena pada banyak kasus, kurangnya perhatian orang tua dapat
menyebabkan dampak buruk pada sikap anak.
4. Memperluas wawasan dan pengetahuan akan sangat
berguna untuk menyaring pengaruh buru, pengaruh budaya asing yang tidak sesuai lingkungan, misalnya
kebiasaan merokok. Dewasa ini, orang-orang menganggap bahwa merokok
meningkatkan kepercayaan diri dalam pergaulan. Padahal jika dilihat dari sisi
kesehatan, merokok dapat menyebabkan banyak penyakit, baik pada perokok aktif
maupun pasif. Sehingga kebiasaan ini tidak hanya akan mempengaruhi dirinya
sendiri, melainkan juga orang-orang di sekelilingnya.
5. Adanya mata kuliah Pendidikan moral
dan Pengembangan karakter salah satunya Pendidikan Kewarganegaraan yang
didikuti mahasiswa untuk menanamkan pada diri masing-masing akan pentingnya
pendidikan karakter untuk memperbaiki moral bangsa. Lalu pendidikan agama yang
didalamnya terdapat berbagai pendekatan untuk menuju moral yang lebih baik.
6. Memanfaatkan Perkembangan ilmu pengetahuan
dan teknologi sebaik-baiknya.
7. Memperteguh penanaman nilai-nilai
Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
(Sumber:Wikipedia dan referensi buku Pendidikan kewarganegaraan )

0 komentar:
Posting Komentar